Kamis, 24 Oktober 2013

Makalah Toleransi Beragama


TOLERANSI BERAGAMA
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Tafsir
Dosen Pengampu : Irzum


Disusun Oleh :
Maslihatul Nurul Khusniyah      (412080 )


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN DAKWAH
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Belakangan ini, agama adalah sebuah nama yang terkesan membuat gentar, menakutkan, dan mencemaskan. Agama di tangan para pemeluknya sering tampil dengan wajah kekerasan. Dalam beberapa tahun terakhr banyak muncul konflik, intoleransi, dan kekerasan atas nama agama. Pandangan dunia keagamaan yang cenderung anakronostik memang sangat berpotensi untuk memecah belah dan saling klaim kebenaran sehingga menimbulkanberbagaimacamkonflik.

Fenomena yang juga terjadi saat ini adalah muncul dan berkembangnya tingkat kekerasan yang membawa-bawa ama agama (mengatasnamakan agama) sehingga realitas kehidupan beragama yang muncul adalah saling curiga mencurigai, saling tidak percaya, danhidupdalamketidakharmonisan.
Toleransi yang merupakan bagian dari visi teologi atau akidah Islam dan masuk dalam kerangka system teologi Islam sejatinya harus dikaji secara mendalam dan diaplikasikan dalam kehidupan beragama karena ia adalah suatu keniscayaan social bagi seluruh umat beragama dan merupakan jalan bagi terciptanya kerukunan antar umat beragama.
B.     Tujuan Penulisan
 Untuk mengetahui isi kandungan
Ø surat yunus ayat 40-41
 Menelaah
Ø kembali surat yunus ayat 40-41 sebagai salah satu Surat yang membahas tentang toleransi.
 Untuk mengetahui pelajaran
Ø yang terkandung dalam surat yunus ayat 40-41.
C.     Rumusan Masalah
1.      Pelajaran apa sajakah yang dapat kita ambil dari surah yunus ayat 40-41 ?
2.      Apa kaitanya surah yunus ayat 40-41 dengan dakwah?







BAB II
PEMBAHASAN

وَمِنْهُمْ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ لَا يُؤْمِنُ بِهِ ۚوَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِالْمُفْسِدِينَ

’’Di antara mereka ada orang-orang yang iman kepada Al-Quran, dan diantaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat  perusak. (Ali-Aljumanatul, Terjemahan Al-Quran, Hlm 213)
                                                                                                           
Mufrodat
ومنهم : dan diantara mereka
 من يؤمن به  : ada orang-orang yang iman kepada al-quran
ومنهم من لا يؤمن به   : dan diantaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya
وربك : tuhanmu lebih mengetahui
اعلم بالمفسدين : tentang orang-orang yang berbuat perusak
( Diantara mereka) penduduk Mekah (ada arang-orang yang beriman kepada Alquran) hal ini diketahui oleh Allah (dan di antara mereka ada pula orang-orang yang tidak beriman kepadanya) untuk selama-lamanya. (Rabbmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan) hal ini merupakan ancaman yang ditujukan kepada mereka yang tidak beriman kepadanya, (Asy-Shuyuti,2009,).
    

Yunus ayat 41
وَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ لِي عَمَلِي وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ ۖأَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ
Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah, “bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanm. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Mufrodat
وان كذبوك : jika mereka mendustakan kamu
فقل لي : maka katakanlah
عملي و لكم: bagiku pekerjaanku
ولكم عملكم : dan abgimu pekerjaanmu
انتم بريءون مما اعلم : kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan
وانا بريء مما تعملون : dan akupun terlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan
.
D.DeskripsiSuratyunus
Sebagian besar surah Yunus tergolong Makkiyah, yang turun sebelum nabi Muhammad hijrah ke Madinah kecuali ayat 40, 94, dan 95 yang termasuk Madaniyyah. Dalam penggolongan surah, surah Yunus termasuk kategori surah Al-Mi'un, yaitu surah-surah Al-Qur'an yang ayatnya berjumlah seratusan karena surah ini terdiri dari 109 ayat. Namun ada juga yang berpendapat surah ini termasuk golongan surah as-Sab'ut Thiwal atau "Tujuh Surah yang Panjang". Dalam mushaf Utsmani, surah ini merupakan surah ke-51 yang diturunkan setelah surah Al-Isra', surah ke-17 dalam al-Qur'an dan sebelum surah Hud, surah ke-11. Seluruh isi surah ini masuk ke dalam Juz 11 dan diletakkan setelah surah At-Taubah dan sebelum surah Hud. Surah ini terdiri atas 11 ruku'. Sedangkan topik utama yang dibahas dalam surah ini meliputi masalah akidah, iman kepada Allah, kitab-kitab dan rasul-Nya, serta Hari kebangkitandanpembalasan.
Surah Yunus diawali dengan ayat Mutasyabihat Ali Lam Ra dan diakhiri dengan ayat yang membahas perlunya mengikuti aturan Allah dan bersabar baik dalam ketaatan maupun musibah. Surah ini dinamakan Yunus merupakan sebuah simbolikal dan bukan berarti surah ini berisi kisah Yunus. Bahkan, kisah terpanjang dalam surah ini adalah kisah Musa dan Bani Israil dengan Fir'aun yaitu pada ayat 75 hingga 93. Hanya ayat ke-98 dari surah inilah yang menyebut kata "Yunus". Menurut pengamatan Khalifah, ayat 98 merupakan bagian terpenting dari surah ini
Penjelasan Ayat
Allah menerangkan bahwa nabi Muhammad saw, terbagi menjadi dua kelompok dalam mengimani Muhammad sebagai rosul dan wahyu al-quran yang di terimanya. Sebagian beriman dan sebagian tidak beriman, kelompok mereka yang beriman mengerjakan apa yang di perintahkan dan orang yang tidak beriman menolak mempercayai nabi Muhammad sebagi rosul Allah dan apa yang dibawanya. Namun penolakan mereka itu bertingkat-tingkat, bias jadi diantaranya ada yang menolaknyakarena hanya ikut-ikutan saja atau ada yang menolaknyawalaupun hati kecil mereka mempercayai dan membenarkan yang di bawa nabi Muhammad dengan melihat kandungan dan isi kandungan atau kistimewaan al-quran. Dan di antara mereka ada juga yang memang benar-benar serta lahir dan batin tidak percaya kepadanya serta enggan memperhatikannya demi mempertahankan kedudukan sosialnya karenahatimerekatelahterkunci.
Ada diantara manusia yang mempercayai al-Quran dengan mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan, tetapi ada juga yang tidak mempercayainya dengan latar belakang sebagai berikut:
a. Karena ketidaktahuannya sehingga mengabaikan dan meninggalkan ajaran yang dikandungnya.
b. Mereka mengetahui dan mengimaninya tetapi enggan mengamalkannya kecuali sedikit dan yangmenguntungkannya,inilahyangdisebutmunafiq.
c. Karena lemah imannya sehingga mudah terpengaruh oleh pihak lain yang sengaja untuk mengingkarinya dan berbuat kerusakan. Al-Quran adalah pedoman hidup bagi manusia, bagi yang membaca dan mengamalkannya akan selamat di dunia dan akhirat. Bagi yang beriman al-Quran akan selalu menjadi penuntun hidupnya, penerang hati dan tempat tinggalnya. Apa kata al-Quran selalu diikuti, karena ia yakin al-Quran adalah kitab suci yang pasti benarnya karenadatangnyadariAllahyangMahaSuci.
Dalam ayat ini Allah mengajarkan kita untuk bertoleransi kepada orang yang tidak mau beriman atau yang berbeda keyakinan. Ketika Muhammad Rasulullah menyerukan agar orang-orang musyrik beriman tapi mereka tetap tidak beriman, maka Allah memerintahkan kepada Rasulullah jika mereka tetap tidak beriman maka katakanlah kepada mereka bahwa aku akan mendapat balasan dari perbuatanku dan kamu akan mendapat balasan dari perbuatanmu. Dan tidak ada seorangpun yang menanggung dosa orang lain. Semua amal perbuatan manusia, masing-masing tidak akan mempengaruhi satu sama lainnya, karena akan dirasakan secara individu akibat baik dan buruknya dengan prinsip “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu”

G.KonsepToleransidalamIslam
Dari kajian di atas, toleransi mengarah kepada sikap terbuka dan mau mengakui adanya berbagai macam perbedaan, baik dari sisi suku bangsa, warna kulit, bahasa, adapt-istiadat, budaya, bahasa, serta agama. Ini semua merupakan fitrah dan sunnatullah yang sudah menjadi ketetapan Tuhan. Landasan dasar pemikiran ini adalah firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:
Artinya :
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Seluruh manusia tidak akan bisa menolak sunnatullah ini. Dengan demikian, bagi manusia, sudah selayaknya untuk mengikuti petunjuk Tuhan dalam menghadapi perbedaan-perbedaan itu. Toleransi antar umat beragama yang berbeda termasuk ke dalam salah satu risalah penting yang ada dalam system teologi Islam. Karena Tuhan senantiasa mengingatkan kita akan keragaman manusia, baik dilihat dari sisi agama, suku, warna kulit, adapt-istiadat, dsb.
Toleransi dalam beragama bukan berarti kita hari ini boleh bebas menganut agama tertentu dan esok hari kita menganut agama yang lain atau dengan bebasnya mengikuti ibadah dan ritualitas semua agama tanpa adanya peraturan yang mengikat. Akan tetapi, toleransi beragama harus dipahami sebagai bentuk pengakuan kita akan adanya agama-agama lain selain agama kita dengan segala bentuk system, dan tata cara peribadatannya dan memberikan kebebasan untuk menjalankan keyakinan agama masing-masing.
Konsep toleransi yang ditawarkan Islam sangatlah rasional dan praktis serta tidak berbelit-belit. Namun, dalam hubungannya dengan keyakinan (akidah) dan ibadah, umat Islamtidak mengenal kata kompromi. Ini berarti keyakinan umat Islam kepada Allah tidak sama dengan keyakinan para penganut agama lain terhadap tuhan-tuhan mereka. Demikian juga dengan tata cara ibadahnya. Bahkan Islam melarang penganutnya mencela tuhan-tuhan dalam agama manapun. Maka kata tasamuh atau toleransi dalam Islam bukanlah “barang baru”, tetapi sudah diaplikasikan dalam kehidupan sejak agama Islam itu lahir.
Karena itu, agama Islam menurut hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah saw. pernah ditanya tentang agama yang paling dicintai oleh Allah, maka beliau menjawab: al-Hanafiyyah as-Samhah (agama yang lurus yang penuh toleransi), itulah agama Islam.
H. Hubungan Antara Toleransi dengan Ukhuwah (persaudaraan) Sesama Muslim
Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 10:
Artinya :
Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
Dalam ayat di atas, Allah menyatakan bahwa orang-orang mu’min bersaudara, dan memerintahkan untuk melakukan ishlah (perbaikan hubungan) jika seandainya terjadi kesalahpahaman diantara 2 orang atau kelompok kaum muslim. Al-Qur’an memberikan contoh-contoh penyebab keretakan hubungan sekaligus melarang setiap muslim melakukannya.
Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
Ayat di atas juga memerintahka orang mu’min untuk menghindari prasangka buruk, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, serta menggunjing, yang diibaratkan al-Qur’an seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal dunia (QS.Al-Hujurat:12)
Untuk mengembangkan sikap toleransi secara umum, dapat kita mulai terlebih dahulu dengan bagaimana kemampuan kita mengelola dan mensikapi perbedaan (pendapat) yang (mungkin) terjadi pada keluarga kita atau pada keluarga/saudara kita sesama muslim. Sikap toleransi dimulai dengan cara membangun kebersamaan atau keharmonisan dan menyadari adanya perbedaan. Dan menyadari pula bahwa kita semua adalah bersaudara. Maka akan timbul rasa kasih saying, saling pengertian dan pada akhirnya akan bermuara pada sikap toleran. Dalam konteks pendapat dan pengamalan agama, al-Qur’an secara tegas memerintahkan orang-orang mu’min untuk kembali kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnah).
I. Hubungan antara Toleransi dengan Mu’amalah antar Umat Beragama (Non-Muslim)
Dalam kaitannya dengan toleransi antar umat beragama, toleransi hendaknya dapat dimaknai sebagai suatu sikap untuk dapat hidup bersama masyarakat penganut agama lain, dengan memiliki kebebasan untuk menjalankan prinsip-prinsip keagamaan (ibadah) masing-masing, tanpa adanya paksaan dan tekanan, baik untuk beribadah maupun tidak beribadah, dari satu pihakl ke pihak lain. Hal demikian dalam tingkat praktek-praktek social dapat dimulai dari sikap bertetangga, karena toleransi yang paling hakiki adalah sikap kebersamaan antara penganut keagamaan dalam praktek social, kehidupan bertetangga dan bermasyarakat, serta bukan hanya sekedar pada tataran logika dan wacana.
Sikap toleransi antar umat beragama bias dimulai dari hidup bertetangga baik dengan tetangga yang seiman dengan kita atau tidak. Sikap toleransi itu direfleksikan dengan cara saling menghormati, saling memuliakan dan saling tolong-menolong. Hal ini telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. ketika suatu saat beliau dan para sahabat sedang berkumpul, lewatlah rombongan orang Yahudi yang mengantar jenazah. Nabi saw. langsung berdiri memberikan penghormatan. Seorang sahabat berkata: “Bukankah mereka orang Yahudi wahai rasul?” Nabi saw. menjawab “Ya, tapi mereka manusia juga”. Jadi sudah jelas, bahwa sisi akidah atau teologi bukanlah urusan manusia, melainkan Tuhan SWT dan tidak ada kompromi serta sikap toleran di dalamnya. Sedangkan kita bermu’amalah dari sisi kemanusiaan kita.
J.PelajaranYangDapatDiambil
a. Harus beriman kepada al-Quran dengan mengamalkannya dalam kehidupan sehari- hari.
b. Perintah untuk menyeru beriman kepada Allah tidak memaksa untuk beriman.
c. Perbuatan baik buruk akan dipertanggungjawabkan masing-masing.
K.PenutupSuratYunus
Surat Yunus mengandung hal-hal yang berhubungan dengan pokok-pokok kepercayaan, lenyapnya syirik, pengutusan rasul, hari berbangkit, hari pembalasan dan hal-hal yang berhubungan dengan pokok-pokok agama sebagaimana biasa didapati dalam surat-surat Makkiyyah (Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah,) kepada mereka ("Bagiku pekerjaanku dan bagi kalian pekerjaan kalian) artinya bagi masing-masing pihak menanggung akibat perbuatannya sendiri. Kalian berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan aku berlepas diri terhadap apa yang kalian kerjakan.") akan tetapi ayat itu dinasakh oleh ayatus-saif atau ayat yang menganjurkan memerangi mereka. (Asy-Ashuyuthi,2009)
      Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, apabila kaum musyrikin itu mendustakan kamu maka berlepas dirilah kamu dari mereka dan dari perbuatanya. Dan katakanlah “Bagiku apa yang aku kerjakan dan bagimu apa yang kamu kerjakan.” Penggalan ini seperti firman Allah Ta’ala, “katakanlah, Wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.” Firman Allah Ta’ala, “Dan diantara mereka ada orang yang mendengarkanmu.” Yakni, mereka mendengarkan firman Allah dan ucapanmu yang keduanya memiliki dampak yang besar terhadap kalbu. Tidaklah masuk kedalam kesanggupanmu untuk membuat mereka paham dan mendapat petunjuk. Sebagaimana kamu tidak mampu memperdengarkan firman kepada mereka yang tuli dan tidak dapat memberi petunjuk kepada yang buta, demikianlah pula kamu tidak akan mampu menunjukkan mereka kecuali jika dikehendaki Allah.(Nasib Ar-Rifa’I,2005:723-724)
Tafsiran dari surah yunus ayat 40-41
Ayat ini menegaskan bahwa di antara mereka, yakni kaum musyrikin itu ada orang-orang yang percaya kepadanya tetapi menolak kebenaran al-Quran karena keras kepala dan demi mempertahankan kedudukan social mereka dan di antara mereka ada juga yang memang benar-benar serta lahir dan batin tidak percaya kepadanya serta enggan memperhatikanya karena hati mereka telah terkunci. Tuhanmu pemelihara dan pembimbingmu, wahai Muhammad, lebih mengetahui tentang para perusak yang telah mendarah daging dalam jiwanya kebejatan yang sedikitpun tidak menerima kebenaran tuntutan ilahi. Nah, bila demikian, jika mereka menyambut baik ajakanmu, maka katakanlah bahwa Allah swt, yang memberi petunjuk kepada kamu dan akan memberi ganjaran kepada kamu dan juga kepadaku, dan jika mereka sejak dahulu telah mendustakanmu dan berlanjut kedustaan itu hingga kini dan masa datang, maka katakanlah kepada mereka , bagiku pekerjaanku dan bagi kamu pekerjaan kamu, yakni biarlah kita berpisah secara baik-baik dan masing-masing akan dinilai oleh Allah serta diberi balasan dan ganjaran yang sesuai. Kamu berlepas diri dari apa yang aku kerjakan, baik pekerjaanku sekarang  maupun masa datang, sehingga kamu tidak perlu mempertanggung-jawabkannya dan tidak juga menabah dosa kamu, dan akupun berlepas diri dari apa yang kamu kerjakan baik yang kamu kerjakan sekarang, maupun masa dating dan tidak juga akan memperoleh ganjaran atau dosa, jika kamu memperolehnya.”(Shihab,2005:82)
            Ayat 40 ini menegaskan bahwa kebanyakn mereka tidak mengikuti kecuali dugaan saja. Kedua kelompok yang disebut itu, secara lahirian sama-sama menolak kebenaran alquran. Ada juga penafsiran yang memahami ayat ini sebagai berbicara tentang masyarakat yang dihadapi oleh nabi Muhammad SAW. Yakni sebagian mereka akan beriman dan sebagian lagi, kini dan di masa datang, menolak dan tetap akan menolak. Hanya saja, pendapat ini memiliki kelemahan, kata (منهم) minhum/diantara mereka tentulah tertuju kepada siapa yang dibicarakan sebelumnya, sedang yang dibicarakan sebelumnya adalah kaum musyrikin. Tidak ada kata yang dapat dipahami sebagai menunjuk kepada seluruh masyarakat yang dihadapi oleh nabi Muhammad SAW. Sampai akhir masa. Di sisi lain, tidak ada yang menghadang pemahaman pertama diatas, karena sekian banyak ayat dan riwayat yang mengisyaratkan bahwa sebenarnya ada diantara kaum musyrikin yang ercaya dalam hati kecil mereka kebenaran al-Quran dan kebenaran nabi Muhammad SAW.(Shihab,2005:82)
Perselisihan umat tentang isi al quran yang dibawa nabi, yang beriman percaya bahwa itu memang dari Allah, tapi yang ingkar menganggap al quran buatan nabi, kemudian Allah menantang kaum ingkar untuk membuat yang serupa dengan al quran. (ibnu kasir, 2000)
KAITAN Q.S. YUNUS AYAT 40-41 DENGAN DAKWAH
Dalam kita berdakwah pada orang-orang kafir atau munafik harus berhati-hati karena mereka juga akan menuntut kita untuk mengikuti kepercayaanya itu, harus pinter-pinter memahami karakter mereka



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Surah Yunus (Arab: ينوس , Yūnus, "Nabi Yunus") adalah surah ke-10 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 109 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah kecuali ayat 40, 94, 95, yang diturunkanpadadiMadinah.
Surat Yunus terdiri atas 109 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah kecuali ayat 40, 94, 95, yang diturunkan pada masa Nabi Muhmmad s.a.w. berada di Madinah. Surat ini dinamai "surat Yunus" karena dalam surat ini terutama ditampilkan kisah Nabi Yunus a.s. dan pengikut-pengikutnyayangteguhimannya.
Pelajaran Yang Dapat Diambil dalam surat yunus ayat 40 dan 41 antara lain Harus beriman kepada al-Quran dengan mengamalkannya dalam kehidupan sehari- hari., Perintah untuk menyeru beriman kepada Allah tidak memaksa untuk beriman., perbuatan baik buruk akan dipertanggungjawabkanmasing-masing.



DAFTAR PUSTAKA
Nasib ar-rifa’I Muhammad, Ringkasan tafsir Ibnu Katsir, Gema Insani, Jakarta, 2005
Shihab M. Quraish, Tafsir Al-Mishbah, Lentera Hati, Jakarta, 2005
Asy-Syuyuthi,Tafsir Jalalain,Final Version, tasikmalaya, 2009
Muhammad jalaliddin,dkk, tafsirul alquranilkarimi,
Ali Al-Jumanatul, Terjemahan Quran, Cv penerbit JRT, Surabaya, 2008


































Tidak ada komentar:

Posting Komentar