Kamis, 24 Oktober 2013

Kedatangan Islam di Indonesia

MAKALAH

Kedatangan Islam di Indonesia
Disususn Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliyah: Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu: Mubasyaroh, M.Ag

Berkas:Logo STAIN Kudus Jawa Tengah.jpg


Disusun Oleh:
Maslihatul Nurul Khusniyah (412080)
Muhammad fathan (412067)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
JURUSAN DAKWAH/BKI
TAHUN 2013
BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Latar Belakang masuknya islam di Indonesia diawali dengan hubungan dagang antara bangsa Arab dengan bangsa Indonesia. Dan hubungan dengan dagang tersebut terjadi sekitar abad ke 4 M. sebgai bukti adanya hubungan bangsa Arab dengan bangsa Indonesia, antara lain:
Chau-Ju-Kua, seorang pakar ternama di bidang perdagangan luar negeri di pelabuhan kanton sekitar abad ke-4 H, berdasarkan pengalaman kerjanya yang telah menyusun sebuah buku dalam bahasa cina yang diberi judul “Ju-Fan JI ai (kenang-kenangan tentang bangsa Arab)”. Ia memperkirakan perjalanan melalui laut cina  melalui sanfotsi di sumatera Timur, karena itulah ia menanmkan sumatera sebagai lalu lintas bangsa-bangsa dan lumbung perdagangan dunia.
Hubungan Arab dengan India melalui jalan laut dimulai senjak awal tahun masehi, atau lebih tepatnya sebelum runtuhnya humjir di jaman. Hubungan ini merupakan hubungan pertama bangsa Arab dengan timur jauh pada umumnya dan dengan indonedia pada khususnya,karena para pedagang itu menggunakan india sebagai terminal pertama yang menyampaikan mereka ke saran dib, kemudian dari sana mereka melanjutkan perjalanan ke Indonesia, kemudian diteruskan lagi kenegari cina dan seluruh timur jauh. Kebiasan menempuh perjalanan laut yang jauh yang mengharuskan adanya tempat-tempat berlabuh dan istirahah. Dalam musim-musim tertentu kapal-kapal yang berlayar akrena penganut angin adakalanya menempuh perjalanya ke Timur jauh pulang pegi selama dua tahun.
Disamping dagang antara bangsa Ara dengan bangsa Indonesia, juga di latar belakangi oleh kemunduran politik dan ekonomi sriwijaya kemunduran tersebut dipercepat oleh usaha-usaha kerajaan Singasari yang sedang bangkit dijawa dengan melakukan ekspedisi pama laju pada tahun 1275 M. selanjutnya dan berhasil mengalahkan kerajan melayu di sumatera. Kedaan ini mendorong di daerah selat-delat malaka yang dikuasai kerajaan Sriwijaya untuk melepaskan diri dan kekuasaan kerajayaan tersebut. Kelemahan sriwijaya dimanfaatkan pula oleh pedagang-pedagang muslim untuk mendapatkan keuntungan politik dan perdagangan. Mereka juga mendukung daerah-dar=erah yang muncul, dan daerah yang menyatakan diri sebaggai kerajaan yang bercorak islam, yaitu kerajaan samudera pasai di pesisir laut aceh. Sebagaimana kerajaan srimijaya, kerajaaan singo sari juga mengalami kemunduran yang diakibatkan oleh kekacuan dalam negeri sendiri dalam perebutan kekuasaan di istana. Hal ini menyebabkan kerajaan singosari tidak mampu engontrol daerah melayu di selat malak dengan baik, sehungga kerajaan samudera pasai dapat berkembang dan mencapai puncak kekuasaanya hingga abad ke-6 M.
B.      Rumusan Masalah
1.       Bagaimana runtutan kronologi islam masuk ke Indonesia?

BAB II
PEMBAHASAN

1.       Awal Islam di Indonesia
Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama hijrah atau abad ke7/8 M. ini mungkin didasarkan pada penemuan batu nisan seorang wanita muslimah yang bernama Fatimah binti Maimun di leran dekat Surabaya yang bertaahun 475 H/1082 M.
Sedangkan menurut laporan seorang musafir Maroko Ibnu Batuta yang mengunjungu samudera qasai dari perjalanan perjalanya ke negeri cina pada 1345 M, Agama islam yang bermadzhab Syafi’I telah mantap disana selama seabad. Oleh karena itu berdasarkan bukti ini, abad XIII biasanya dianggap sebagai masa awal masuknya agama islam di Indonesia.
Adapun daerah pertama yang dikunjungi adalah pesisir utara pulau sumatera. Mereka membentuk masyarakat islam pertama di peureulak aceh timur yang kemudian meluas sampai bisa mendirikan kerajaan islam pertama di samudera pasai, aceh utara.
Sekitar permulaan abad ke 15, islam telah memperkuat kedudukanya di Malaka, pusat rute perdagangan asia tenggara yang kemudian melebarkan sayapnya ke wilayah-wilayah Indonesia lainya. Pada permulaan abad tersebut, islam sudah bisa menjejakkan kakinya kemaluku, dan yang terpentimg keberapa kota perdagangan di pesisir utara pulau jawa yang selama beberapa abad menjadi pusat kerajaan hindu yaitu kerajan majapahit. Dalam waktu yang tidak telalu lama yakni permulaan abad XVII, dengan masuk islamnya penguasa kerajaan mataram yaitu sultan Agung, kemenangan Agama tersebut hamper meliputi sebagian besar wilayah Indonesia.
Berbeda dengan masuknya islam ke Negara-negara di bagian dunia lainya yakni dengan kekuatan militer, masuknya islam ke Indonesia dengan cara damai di sertai dengan jiwa toleransi dan aling menghargai antar penyebar dan pemeluk agama baru dengan penganut-penganut agama lama (hundu-budha). Ia dibawa oleh pedagang-[edagag Arab dan Gujarat di india yang tertarik dengan rempah-rempah. Kemudian, mereka membentuk koloni-kolono islam yang sering kali ditandai dengan kekayan dan semangat dakwahnya.
Masuknya islam melalui india ini menurut sebagian pengamat, mengakibatkan bahwa islam yang masuk ke Indonesia ini bukan islam yang murni dari pusatnya di timur tengah, tetapi islam yang sudah banyak dipengaruhu paham mistik, sehingga banyak kejanggalan dalam pelaksananya. Selain itu, dikatakan bahwa islam yang berlaku di Indonesia ini tidak sepenuhnya selaras dengan apa yang digariskan al-quran dan sunnah sebab islam yang dapat kepada masyarakat Indonesia itu bukan islam yang langsung dari sumbernya, tetapi berdasarkan kita-kitab fiqih dan teologi yang telah ada semenjak abad 3 H. pendapat demikian di dasarkan pada kenyataan bahwa kitab-kitab fiqih itu dijadika referensi dalam memahami ajaran Islam di perbagai pesantren, bahkan dijadika rujukan oleh para hakim dalam memutuskan perkara di pengadilan-pengadilan agama.
Terlepas dari pebedaan pendapat tersebut, menurut kenyatan, nila-nilai tradisional hindu-budha telah banyak memengaruhi substansi dan pelaksanaan hukum islam di Indonesia. Semula pencerminan nilai tradisional itu diterima hanyalah untuk memperlancar islamisasi di Indonesia, namun kenyataan justru terjadinya dominasi nilai-nilai tradisional di sebagian besar bangsa Indonesia atau setidak-tidaknya terjadi konflik berkepanjangan.
Akan tetapi, sejak pertengahan abad XIX, agama islam Indonesia secara bertahap mulai menanggalkan sifat-sifatnya yang sinkretik setelah banyak orang Indonesia yang mengadakan hubungan dengan makkah dengan jara menggunakan ibadah haji. Apalagi setelah trasportasi laut yang semakin menjauh yang semakin membaik, semakin banyaklah orang Indonesia yang melakukan ibadah haji bahkan sebagian mereka ada yang bermukim bertahun-tahun lamanya untuk mempelajari ajran islam dari pusatnya, dan ketika kembali ke Indonesia mereka menjadi penyebaran aliran islam yang ortodok.

2.       Negara Islam Yang Tertua di Indonesia
Pelayaran dari India ke Tiongkok atau kebalikanya melalui pelabuhan Melayu bertahan sampai timbulnya kota pelabuhan Malaka pada permulaan abad ke-15. Sejak itu, perahu dagang dari Tiongkok ke India atau kebalikanya tidak lagi singgah di Jambi tetapi singgah di Malaka. Dengan kata lain pelayaran dari india ke tiongkok menyisir pantai Barat semenanjung, tidak lagi menyisir pantai Timur sumantra. Dengan sendirinya, sebelum abad ke-15, di pantai timur Sumatra terdapat beberapa kota pelabuhan. Timbulnya kota pelabuhan bertalian erat dengan timbulnya Negara-negara pantai Sumatra. Dalam abad ke-7, yang disebut ialah Sriwijaya, Melayu, dan Boros. Negara-negara itu termasuk Negara Hindu, menganut agama Budha.
Pada akhir abad ke-12, di pantai timur Sumatra terdapat Negara Islam bernama perlak. Nama itu kemudian dijadikan pneureulak, didirika oleh para pedagang asing dari mesir, Maroko, Persi dan Gujarat, yang menetap disitu sejak awal abad ke-12. Pendirinya adalah orang Arab keturunan suku Quraisy. Pedagang Arab itu kawin dengan putri pribumi, keturunan raja perlak. Dari perkawinan iti ia mendapatkan seorang putra bernama Sayid Abdul Aziz. Sayid Abdil Aziz adalah sultan pertama raja perlak. Setelah ditabalkan menjadi sultan perlak, bernama Alaiddin Syah. Demikianlah ia dikenal sebagai sultan Alaidin Syah dari perlak. Ia memerintah mulai tahun 1161-1168. Kedatangan pedagang-pedagang asing, yang kemudian membentuk kesultanan perlak itu, berlangsung sejak tahun 1028. Sebelumnya perlak diperintah oleh raja yang bergelar mohrat artinya ”raja”. Sayid Abdul Aziz adalah orang Arab peranakan, keturunan Sayid dari Arab dan puti marah dari perlak. Agama Islam yang dipeluk oleh sultan Alaiddin Syah ialah Agama Islam aliran Syi’ah. Kesultanan perlak bertahan sampai satu abad lebih dan mengenal beberapa sultan. Sultan yang kedua bernama Alaiddin Abdurrahman Syah Ibn Sayid Abdul Aziz, memerintah dari tahun 1186-1210. Sultan yang ketiga adalah sultan Alaiddin Sayid Abbas Syah Ibn Sayid Abdurrahim Syah, memerintah dari tahun 1210-1236.
Perebutan kekuasaan antara keturunan Sayid Abdul Aziz dan ketunan marah berlangsung sudah sejak masa pemerintahan Sultan Alaiddin Mughayat Syah dari tahun 1236-1239. Dalam perebutan kekuasaan itu, dinasti Sayid Aziz mengalami kekalahan. Demikianlah sejak tahun 1239, perlak dipimpin oleh sultan mahdum Alaiddin Abdul Kadir Syah, keturunan Marah Perlak. 
Kesultanan perlak dipantai timur Sumatra bagian utara, masih ada ksultanan lain yang dipimpin oleh laksamana laut dari dinasti Fathimiah di Mesir, yakni kesultanan pasai. Kesultanan pasai teletak dimuara sungai pasai dan menjadi Negara bawahan Mesir. Kesultanan pasai didirikan oleh dinasti Fathimiah di Mesir pada tahun 1128, dipimpin oleh laksamana laut Nazimuddin Al-Kamil. Alasan untuk mendrikan kesultanan pasai oleh dinasti Fathimiah di Mesir ialah karena dinasti Fathimiah ingin menguasai perdagangan rempah-rempah dipantai timur Sumatra. Untuk dapat menguasai perdagangan rempah-rempah itu, dinasti fathimiah mengerahkan armadanya untuk merebut kota pelabuhan kembayat di Gujarat, membuka kota pelabuhan pasai, dan merebut daerah penghasil lada Kampar Kanan dan Kampar Kiri di Minangkabau. Kota pelabuhan pasai djadikan pelabuhan utama pengeks[or lada, sedangka Gujarat dijadikan pasaran lada yang berasal dari daerah sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri. Penguasaan tiga tempat tersebut member keuntungan yang banyak sekali kepada dinasti Fathimiah, sehingga dinasti itu menjadi kaya ray. Dalam ekspedisi militer untuk merebut daerah sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri, laksamana laut Nazimudin Al-Kamil gugur. Jenasahnya dikubur di bangkinang, ditepi sungai Kampar Kanan pada tahun 1128.
Dinasti Fathimiah didirkan oleh Ubaid Ibn Abdillah pada tahun 976,. Dinasti itu bertahan sampai tahun 1168, karena pada tahun 1168, dinasti Fathimiah dimusnahkan oleh tentara Salahuddin yang menganut agama islam madzhab Syafi’i. dengan musnahnya dinasti Fathimiah di Mesir, maka kesultanan pasai terputus hubunganya dengan Mesir, namun masih tetap berdiri. Pada tahun 1168 kesultanan pasai itu dipimpin oleh laksamana Kafrawi Al-Kamil. Laksamana Johan Jani dari pulau We, seorang peranakan India-Persia, berhasil merebut kekuasaan atas pasai dari tangan laksamana Kafrawi Al-Kamil pada tahun 1204.Kesultanan pasai bertambah lama bertambah kuat, dan merupakan Negara maritime yang paling kuat di Nusantara.
Bagaimanapun, dinasti baru di Mesir yang beragama Islam madzhab Syafi’I tidak menghendaki kelanjutan kesultanan pasai yang menganut aliran syi’ah. Dinasti baru ialah dinasti mamaluk. Pada hakikatnya dinasti mamaluk juga ingin menguasai perdagangan rempah-rempah seperti hanya dinasti Fathimiah. Pada tahun 1284 dinasti mamaluk mengirim Syaikh Ismail kepantai timursumatra bersama Fakir Muhammmad, bekas ulama dipantai barat India, untuk mengilangkan pengaruh Syi’ah dan sekaligus mengambil alih kekuasan dari penguasa pelabuhan pasai. Di samudera pasai, mereka bertemu dengan marah  Silu, yang telah masuk dalam ketentaraan pasai dengan nama Iskandar Malik. Syaih Ismail berhasil membujuk Marah silu untuk memeluk agama islam madzhab Syafi’i. Pada waktu itu, marah silu telah pandai membaca Koran dan sudah memeluk agama islam aliran Syi’ah. Mengikut marah silu, yang bernama Seri Kaya dan Bawa Kaya, ikut masuk madzhab Syafi’I dan berganti nama Sidi Ali Chiatudin dan Sidi Ali Hasanuddin. Dengan bantuan dinasti Mamaluk dimesir , marah selu ditabalkan menjadi sultan di samudera oleh Syaikh Ismail dengan julukan Malikul Saleh. Negara samudera merupakan negara andingan kesultanan pasai dan Perlak, yang menganut aliran Syi’ah. Samudera/Pasai terletak dimuarai sungai pasai dipantai timur Sumatra, menghapa keselat Malaka.
Negara islam pasai yang menganut Syi’ah pada tahun 1285, menjadi perebutan. Muhammad Amin dari Perlak dan Yusuf Kayamuding dari Temiang, yang saling bermushan, keduanya ingin menjadi sultan di pasai. Pada waktu itu yang menjadi sultan dipasai adalah Bahauddin Al-Kamil cucu sultan yang ketiga diNegara pasai Alwi al Kamil. Sultan bahauddin al-kamil berhasil menyingkirkan sultan Ibrahim Jani , cucu sultan Djohan Jani. Demikianlah telah terjadi peperangan sigi empat untuk merebutkan Negara pasai. Perang ini masih di timbrung oleh dua golongan lagi, yakni golongan dinasti mamaluk yang dipimin oleh Syaikh Ismail dan golongan marah silu yang memberontak terhadap sultan pasai.
Sultan malikul Saleh ditebalkan oleh Syaikh Ismail menjadi sultan Negara samudera/pasai atas nama Syarif Makah, yang menyingkir dari bagdhad ke Mesir sejak tahun 1258, akibat serangan tentara Mongolia dibawah pimpinan Mongka. Penobatan Marah Silu oleh Syaikh Ismail menjadi sultan pertama di Negara samudera/pasai yang beraliran madzhab Syafi’I, didasarkan atas pertimbangan pertama, dinasti mamaluk memerlukan orang asli yang kuat dan beragama Islam madzhab Syafi’I. kedua karena menurut pendapat Syaikh Ismail, Merah Silu akan sanggup membasmi aliran Syi’ah yang masih meraja lela di pantai timursumatera. Ketiga, karena dinasti mamaluk mengharapkan bahwa Marah Silu akan sanggup mengambil alih dagang lada dari tangan pedagang Persia, Arab dan Gujurat yang beragama Islam aliran Syi’ah. Selama sultan Maliku Saleh berkuasa di samudera pasai, orang syi’ah banyak yag menyeberang menjadi muslim aliran Syafi’I atas pertimbangan untung rugu.
Sultan Malikul Shaleh kawin dengan putri perlak Gangga Sari, keturunan Sultan Aladdin Muhammad Amin bin Abdul Kadi yang lahir dari selir. Dengan timbulnya Negara  Samudera Pasai, kesultanan perlak banyak mengalami kemunduran. Samudera Pasai menjadi Bandar utama di pantai timur sumatera bagian utara. Dari perkawinanya dengan putri Ganggang Sari, Sultan Malikul saleh memperoleh dua orang putra bernama Muhammad dan Abdullah, Sultan Malikul Saleh wafat pada tahun 1297, dan dihgantikan oleh putra sulungnya, Muhammad. Muhammad ditambahkan dengan julukan sultan maliku thahir. Putranya yang kedua menyeberang ke aliran Syi’ah sejak tahun 1295, dan kemudian mendirikan kesultanan Aru Barumun. Demikianlah, aliran Syi’ah yang ditindas semata pemerintahan Sultan Malikul Saleh mendapat angin baru di Aru Barumun sejak pemerintahan Abdullah alias Malikul Mansur. Sultan Malikul Thahir memerintah sampai tahun 1326, kemudian di gantikan oleh sultan Ahmad Bahian Syah Malikul Thahir. Pada akhir pemerintahan sultan Sultan Ahmad Bahian Syah, yakni pada tahun 1339, Samudera pasai diserah oleh tentara Majapahit dibawah pimpinan patih Amangku Bumi Gajah Mada. Putri sultan Zainal Abidin Bahian Syah kawin dengan raja Parameswara, yang mendirikan kesultanan Malaka pada tahun 1404. Akibat perkawinan itu raja, raja Parameswara memeluk madzhab Syafi’I. Kemudian Malaka menjadi pusat Agama Islam madzhab Syafi’I di seluruh pantai Barat dan timur Malaya.
Dalam Nagarakretagama pupuh, beberapa bagian diaceh disebut sebagai Negara yang berlindung di bawah kekuasaan Majapahit. Bagian-bagian di pulau Sumatra yang disebut dalam nagarakretagama ialah, Jambi, Palembang, Toba, Darmacraya, Kandis, Khawas, Minangkabau, Syak, Rekan, Kampar, Panai, Kampe, Haru,Mandailing, Tumihang, Parlak, Lwas, Samudera, Lamuri, Batan, Lampung, Barus. Itulah sejumlah daerah di tanah  Melayu yang tunduk kepada majapahit. Nama melayu sama dengan nama Sumatra.
Dongengan tentang serangan tentara Majapahit terhadap Negara Islam Samudra memang tersiar diantara ramai di Aceh. Serangan itu disebabkan karena kerajaan Majapahit khawatir akan pesatnya kemajuan Negara Samudera.
Serangan tentara Majapahit di perbatasan negara Perlak mengalami kegagalan, karena perbatasan itu dikawal keras oleh tentara Samudera. Namun Gajah Mada tidak tidak membatalkan seranganya,  ia mundur kelaut dan mencari tempat kosong di pantai timur yang tidak terjaga. Gajah Mada mendaratkan pasukanya di sungai Gajah. Di situ ia mendirikan benteng diatas bukit, yang dinamakan bukit Meutan (Bukit Gadjah Mada). Kemduian Gadjah Mada menjalankan siasaat serangan dua jurusan, yakni dari jurusan laut dan jursan darat. Serangan dari jurusan laut dilancarkan terhadap pantai Lhok Sumawe dan Dikuala Jambu Air. Serangan dari darat dilancarkan melalui melalui Paya Gadjah yang terletak antara Perlak dan Pedawa. Serangan dari daratan itu mengalami kegagalan. Tentara Samudera berkemah di sebelah barat sungai Perlak dan bentengnya di Paja Gajah Alue Bu.  Seberang Timur sungai dijadikan medan pertempuran. Kapal-kapal majapahit yang yang mudik di sungai dibakar. Gadjah mada mengirim mata-mata ke kota benua (Tamiang) dengan menyamar sebagai saudagar. Kemudian mengirim utusan resmi untuk menghadap raja muda sedia, penguasa Tamiang dengan pesan untuk meminang putri Mega Gema dan ajakan menyerang Samudera bersama-sama. Namun ditolak akibatnya Gadjah Mada mengambil keputusan untuk menyerang Tamiang dan memusnahkan kota Benua. Serangan yang kedua kalinya berhasil baik. Tentara dapat mencapai istana. Kekayaan raja Muda Sedia habis dijarah dan putri oleh patih dan putri Mega Gema berhasil ditahan, dan dibawa ke hilir.
Ketika Gadjah Mada dan para pengawalnya sedang menikmati buah-buahan, Tuanku Ampon memukul genderang sebagai isyarat bahwa laski Tamiang harus menyerang. Pada saat itulah, Tuanku Ampon Tuan berhasil merebut putrid Meuga Gema, dan kemudian membawanya lari. Tempat perkemahan Gadjah  Mada di tepi sungai Tamiang itu disebut Bukit Selamat. Demikianlah penculikan putrid Meuga Gema     oleh tentara Majapahit itu dapat digagalkan.
Kota Pelabuhan Malaka
Tome Pires, pengarang Portugis yang tinggal di Malaka dari tahun 1512-1515, mengenai kota pelabuhan Malaka hanya mengatakan bahwa pelabuhan Malaka itu dibuka kira-kira seratus tahun sebelum Malaka jatuh dalam kekuasaan orang-orang portugis. Yang membangun pelabuhan Malaka ialah Parameswara, raja pelarian dari Tumasik (Singapura), karena takut akan serangan balasan raja Pahang yang dating ke Tumasik dengan armadanya untuk membasakan kematian saudaranya yang dibunuh oleh Parameswara.
Pada tahun 1405, raja Parameswara segera mengirim utusan ke istana peking untuk secara resmi minta pengakuan dari kaisar  Yung-lo. Kaisar yung-lo memberikan pengakuan secara resmi kepada Negara Malaka yang dipimpin oleh parameswara. Setelah parameswara memeuk agama islam madzhab Syafi’I berkat bujukan putrid dari pasai dan bernama Megat Iskandar Syah, banyak rakyat malaka yang ikut masuk agama Islam. Malaka menjadi kesultanan islam, Negara islam yang pertama di Malaya. Saudagar-saudagar silam dari Arab, Persia dan India yang semula berlayar menyisir pantai timur Sumatra, mengunjungi kota pelabuhan Pasai, Aru dan Jambi, sejak tahun 1414 mulai berlayar menyisiri pantai barat Malaya singgah di kota pelabuhan Malaka. Dalam waktu beberapa tahun saja, pelabuhan malaka sudah ramai dikunjungi perahu dagang.
Persebaran Agama Islam dari Malaka
Persebaran agama islam dilakukan oleh para pedagang dari Arab yang menjalankan pelayaran beranting, menyisir pantai dari jedah melalui teluk Persia ke kambayat/Gujarat di pantai barat India. Gujarat merupakana pusat pertemuan para pedagang Arab, Persia, India dan para pedagang dari Malaka. Para pedagang Persia dan India mendapat pengaruh Islam lebih dahulu dari pada para pedagang Malaka. Gujarat sebagai kota pelabuhan tempat bertemu para pedagang Arab-persia yang telah memeluk agama islam dengan para pedagang India dan para pedagang yang berasal dari pedagang Asia Tenggara, terutama para pedagang Malaka, menjadi pusat kehidupan agama islam dan pangkal persebaranya ke Asia Tenggara, terutama ke Malaka  yang juga menjadi kota dagang.
Sebagai kota dagang yang ramai dikunjungi oleh para pedagang asing, kota pelabuhan Malka member kesempatan kepada para pedagang asing untuk membuka perwakilan dagang di kota Malaka. Dengan sendirinya pedagang-pedagang yang membuka perwailan dagang itu mengirim orang-orang tertentu untuk menetap di kota malaka. Mereka, Kecuali menjalankan dagang untuk memperoleh keuntungan juga, mengenal dari dekat cara hidup orang-orang muslim di malaka. Yang mempunyai minat mendapat kesempatan untuk mempelajari Agama Islam dan kemudian memeluknya. Raja dan para pembesar Malaka  suka agar saudagar-saudagar asing itu menetap di kota pelabuhan, karena kesejahteraan Negara Malaka banyal bergantung pada perdagangan yang mereka lakukan. Adanya perwakilan dagang asing meningkatkan kegiatan dagang. Banyak diantara para anggota perwakilan dagang itu yang lalu kawin dengan wanita-wanita Islam Malaka, baik keturunan para pembesar maupun keturunan para pedagang dan rakyat biasa. Karena bujukan istri, tidak jarang pula diantara  mereka melepaskan Agama Hindu kemudian masuk Islam. Akibatnya banyak diantara mereka yang terus menetap dikota pelabuhan Malaka. Perkawina dengan wanita-wanita Islam di malaka kadang-kadang juga tidak sepi dari pamrih, apalagi jika wanita itu keturunan pedagang atau pembesar setempat para anggota perwakilan dagang asing itu memperoleh fasilitas-fasilitas yang membawa keuntungan.
Untuk sekedar memperoleh gambaran tentang urutan sultan-sultan Malaka, di bawah ini diikutsertakan daftarnya:
Parameswara (Megat Iskandar Syah)      1402-1424
Sri Maharaja (Muhammad Syah)               1424-1444
Sri Parameswara Dewa Syah                       1444-1446
Muzaffar Syah (Raja Kassim)                       1446-1459
Masur Syah                                                        1459-1477
Alauddin Ri’ayat Syah                                     1477-1488
Mahmus Syah                                                   1488-1528
Selat Malaka adalah satu-satunya jalan lalu lintas pelayaran dari India ke Tiongkok dan ke Indonesia. Persebaran Agama islam melalui para pedagang harus melalui juga selat Malaka, dan kota pelabuhan Malaka. Pedagang-pedagang Islam dari india yang membawa Agam Islam ke Malaka kebanyakan para pedagang dari Persia dan Kembayat yang memeluk Agama Islam/aliran Syi’ah. Agama Islamyan berkembang di Malaka adalah agama Islam/Syafi’i.
Adanya ketegangan yang timbul antara kelompok Sayyid dan non-sayyid di tengah masyarakat Arab Indinesia menyebabkan Ahmad Surkati berpisah dengan Al-Jam’iyat al-Khayriyah dan mendirikan gerakan Al-Irsyad pada 1913. Gerakan inilah yang kemudian mencoba menggembangkan ide pembaharuan islam di Indonesia, tak terbatas hanya di kalangan warga keturunan Arab.[3]
 Hasil penyelidikan bahwa catatan “sejarah melayu” ternyata kacau. Yang lebih dekat dengan kebenaran ialah bahwa raja Malaka pertama itu seorang Raja Hindu bernama permaisura, bergelar raja kecil besar, dan kemudian baginda memeluk islam, lalu memakai gelar Sultan Muhammad Syah.
3.       MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA
Mengenai peran perdagangan dan para pedagang dalam mengislamkan Indonesia,di mana pengaruh dan penyebaran islamkan Indonesia, di mana pengaruh dan penyebaran islam efektif sekali.Hal ini disebabkan karena banyak orang yang begitu saja tertarik untuk memeluk agama islam sebelum    mempelajari syari’at agamanya secara rinci
. Ada dua fenomena yang menyertai masuk nya islam di berbagai kepulauan di Indonesia yaitu:
1.       Masyarakat pribumi menyambut islam dangan antusias sekali sehinga islam merupakn agama mayoritas mutlak dalam masyarakat .
2.       Indonesia yang islami dengan kata lain indosia memilih untuk dirinya agama islam tercantum dalam al qur’an nul karim dan sunah nabi yang tidak bisa di tipu dan di palsu juga dalam kerangka umum baik dalam bentuk ritual maupun tatacara dan ahklak sehari hari
Adapun masuknya islam di Indonesia ada beberapa pendapat dari para ahli sejarah antara lain:
Menurut dr.hamka agama islam masuk ke indonesia pada tahun 674 m.berdasarkan catatan tiongkok saat itu datangutusan raja arab ke kerajaan holing untuk membuktikan keadilan ,kemakmuran,keamanan perintah ratu sima di jawa.
Penyebaran agama islam dapat berkembang dengan cepat di Indonesia, di sebabkan karena factor kondisi di tempat, di mana penduduk di kepulauan ini sebagai besar masih berada pada tingkat perkembangan rohaniah meskipun secara khusus sangat berbeda-beda,tetapi cara hakikatnya masih sama rendahnya dengan bangsa arab pada zaman Nabi Muhammad SAW..ini menurut Snouck Hurgronje.
PROSES MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA
Proses masuknya islam ke indnesia itu melalui lapisan paling bawah yaitu dengan cara para saudagar-saudagar muslim baik yang datang dari Gujarat maupun arab untk berdagang.
Tetapi adapun selain berdagang para saudagar-saudagar berdakwah dan proses penyebarannya islam terutama di pulau jawa masih teratas Cuma di daerah-daerah pantai.dari uraian masuknya islam ke nusatara adalah melalui 2 jalur yaitu jalur darat dan jalur laut.
Pembawa islam ke Indonesia ada 2 golongan yaitu saudagar dari gujarat dan Arab :
1.        Orang Gujarat terbukti dengan perdagangan,adanya gelar syah,dan adanya persamaan atara india dengan Indonesia.
2.       Para saudagar dari Arab dengan alasan sudah adanya perdagangan pantai antara arab dan Indonesia,melalui lautan sebagai terminal menuju cina.

4. KAITANNYA KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA
                    Kerajaan islam pertama di kepulauan Nusantara ini berdiri di Aceh yaitu kerajaan Samudra      Pasai yang didirikan pada pertengahan abad ke-13 M.Setelah Kerajaan islam ini berdri, perkembang muslim di malaka makin lama makin meluas dan abad ke-15 M di daerah ini lahir kerajaan islam,yang merupakan kerjaan isam ke-2 di Asia tenggara.
Pengaruh islam masuk ke Indonesia bagian Timur, khususnya darah Maluku,tidak dapat dipisahkan dari jalur perdagagan yang terbentang pada pusat lalu lintas pelajaran internasional di Maluku,jawa dan Maluku sejak abad ke 14 M.islam dating ke daerah Maluku raja ternate Molometa (1350-1357 ) .Hal ini membuktikan bahwa di Ternate sudah ada masyarakat islam sebelu rajanya masuk islam.Di kalimatan Timur pertama kali diislamkan oleh Datuk RI Bandang dan Tunggang pangaran.Ke-2 mubalig itu dating ke kutai setelah orang-orang makasar masuk islam.
Masuknya islam ke Indonesia diawali dengan dagang antara bangsa arab dan Indonesia.Adapun para pedagang itu tidak hanya berdagang tapi juga berdakwah juga.Mulanya para pedagang ini sudah lama sebelum lahirnya Agama islam sudah berdatangan dari india ke-pulauan-pulaun di Indonesia.
Setelah sebagaian dari bangsa india memeluk agama islam,maka orang islam dari india juga turut mengambl bagaian dalam lalu lintas perdagangan ini  dan mereka inilah yang memasukkan Agama Islam ke pulau-pulau tersebut.jadi Agama islam yang mereka sebarkanitu sebelumnya sudah mengalami proses penyesuaian dengan agama hindu sehingga memudahkan dalam menyesuaikan diri dengan agama hindu campuran yang ada di pula-pulau di Indonesia.Dalam perkembangannya itu makin meluas sehingga dengan cara perdagang terbentuklah desa-desa,daerah-daerah, dan kerajaan Islam.
Islam dibawa ke indonesia oleh para pedagang arab dan Gujarat.Saluran pengembangan islam dapat dilaksanakan lewat pendidikan,baik informal maupun formal,dan yang paling dominan melalui perdagangan.
Islam itu tumbuh menjadi suatu kerajaan islam di Aceh karena letak geografis Aceh yang strategis yang dapat menghubungkan antara Jazirah Arab dengan Asia Timur jauh.
Islam di tanah Jawa disebarkan oleh para wali  yang terkenal dengan walisongo, sedangkan di Gajo Islam berkembang melaui pemimpin orang Gajo, atau pejuang yang ingin menegakkan ajaran Islam.


















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

 Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama hijrah atau abad ke7/8 M. ini mungkin didasarkan pada penemuan batu nisan seorang wanita muslimah yang bernama Fatimah binti Maimun di leran dekat Surabaya yang bertaahun 475 H/1082 M.
Sedangkan menurut laporan seorang musafir Maroko Ibnu Batuta yang mengunjungu samudera qasai dari perjalanan perjalanya ke negeri cina pada 1345 M, Agama islam yang bermadhan Syafi;I telah mantap disana selama seabad. Oleh karena itu berdasarkan bukti ini, abad XIII biasanya dianggap sebagai masa awal masuknya agama islam di Indonesia.
Mengenai peran perdagangan dan para pedagang dalam mengislamkan Indonesia,di mana pengaruh dan penyebaran islamkan Indonesia, di mana pengaruh dan penyebaran islam efektif sekali.Hal ini disebabkan karena banyak orang yang begitu saja tertarik untuk memeluk agama islam sebelum    mempelajari syari’at agamanya secara rinci. Disebabkan karena banyak orang yang begitu saja tertarik untuk memeluk islam sebelum mempelajari islam secara rinci. Ada dua fenomena yang menyertai masuk nya islam di berbagai kepulauan di Indonesia

DAFTAR PUSTAKA
·         Muljana Slamet, Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara,PT.Lkis pelangi Aksara, Yogyakarta,2007
·         Thohir Ajid, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam,fajar Interpratama Offset,Jakarta,2004
·         Hamka, Sejarah Umat Islam, Pustaka Nasional, PTE,LTD Jakarta: 1994-2005
·         Affandi Bisri, Pembaharu & Pemurni Islam di Indonesia,Pustaka Al-Kautsar,Jakarta Timur, 1999
·         Syukur Fatah, Sejarah peradaban Islam, PT.Pustaka Rizki Putra, Semarang,2011




Ajid Thohir, perkembangan peradaban di kawasan dunia islam, (Jakarta,2004), hlm. 292



Prof. Dr. Slamet Muljana, runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, (Yogyakarta,2007), Hlm. 130.
Prof.Dr. Bisri Affandi, MA., pembaharu & pemurni islam di Indonesia,(Jakarta,1999), Hlm. 56-57
Prof. DR. HAMKA, sejarah umat islam, (Jakarta,1981), Hlm.89
Drs. H. Fatah Syukur NC, M.Sg, sejarah peradaban islam,(semarang, 2011), Hlm 180

Tidak ada komentar:

Posting Komentar