Kamis, 24 Oktober 2013

Makalah Nilai-nilai Dakwah dalam Film "Kehormatan di Balik Kerudung"


NILAI-NILAI DAKWAH DALAM FILM
“KEHORMATAN DI BALIK KERUDUNG”

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata kuliyah      : Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu       : Primi Rohimi




Disusun Oleh:
Maslihatul Nurul Khusniyah  (412080)


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN DAKWAH
2013
                                                                   Nilai-Nilai Dakwah dalam Film
“ Kehormatan di Balik Kerudung”

PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
            Film adalah Film, sementara dakwah adalah dakwah. Keduanya hal yang berbeda namun, Film bisa menjadi sarana atau ekspresi buat berdakwah. Demikian antara lain menurut Deddy Mizwar dalam talkshow bertajuk “Film, Ekspresi, Dakwah” di masjid salman ITB jumat, 6 Mei 2011.
           Kemajuan teknologi informasi, Film kini tidak bersifat eksklusif. Ia bisa memasuki ruang privat seorang kapanpun bahkan dimanapun. Menonton Film tidak mesti dibioskop, tetapi suasana bioskop sekarang bukan tidak mungkin dipindahkan ke kamar tidur.
          Demikianlah nilai-nilai dakwah atau kebaikan bukan tidak mungkin diserap oleh seseorang atau khalayak. Lewat hanya khotbah-khotbah keagamaan di ruang-ruang yang sacral.
          Poligami dalam Islam merupakan praktek yang diperbolehkan (mubah, tidak dilarang namun tidak dianjurkan).
         Film “kehormatan di Balik Kerudung” ini contohnya sebagai salah satu media dakwah karena di dalamnya berisi nilai-nilai dakwah yang sangat etis bagi kalangan Islam. Alur cerita yang disampaikan tidak membingungkan, sehingga  penonton langsung bisa merespon. Bahasa yang digunakan oleh tokoh-tokoh dalam film tersebut sangat berwibawa, puitis, halus dan penuh dengan perasaan. Para pemainyapun sangat lihai dalam meragakan karakter masing-masing.
     Film ini disutradarai oleh Tya Subiakto Satrio, yang diadaptasi dari novel ma’mun Affany.
B.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, pertanyaan dalam makalah ini adalah mengapa terjadi poligami. apa sajakah factor-faktor penyebab poligami dalam film “ Kehormatan di Balik Kerudung?
   Nilai-nilai dakwah apa sajakah yang sangat etis bagi kalangan Islam dalam film “Kehormatan di Balik Kerudung”?
C.     Tujuan  Penulisan
     Makalah ini disususun dengan tujuan  untuk mengetahui pengertian poligami beserta  factor-faktor terjadinya poligami dan mengetahui nilai-nilai dakwah yang terdapat dalam film “Kehormatan di Balik Kerudung”.
D.    Signifikasi
         Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik teoritis (signifikansi teoritis) maupun praktis (signifikansi praktis) Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi khasanah pengembangan dakwah khususnya Jurusan Dakwah Islam yang mempunyai konsentrasi pada bidang bimbingan penyuluhan Islam.
      Secara praktis makalah ini diharapkan mampu menjadi tolak ukur pemikiran bagi masyarakat luas dan umat Islam pada umumnya dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari, salah satu aktivitas dakwah melalui pengkajian film-film Islam Indonesia.
E.     Tinjuan Pustaka
    Dalam makalah ini, penulis akan mendeskripsikan pada beberapa buku yang ada relevansinya  dengan judul di atas.
1.                 Sabar menurut bahasa berarti menahan dan mengekang.
2.      sabar Dalam al-Quran Imam Ghazali berkata, “bahwa sabar itu ada dua, pertama bersifat badani (fisik), seperti menanggung beban dengan badan, berupa pukulan yang berat atau sakit yang kronis. Kedua adalah al-Shabaru al-Nafsi (kesabaran moral) dari syahwat-syahwat naluri dan tuntutan-tuntutan hawa nafsu.
3.    Poligami dalam Islam merupakan praktek yang diperbolehkan (mubah, tidak dilarang namun tidak dianjurkan).
4. KBBI dalam makalah ini telah diambil pula makna dari kata sabar, dengan tujuan untuk membatasi makna sabar dengan tujuan diperoleh makna yang lebih spesifik.   
                                                                                                      
  
                           











PEMBAHASAN


           Poligami dalam Islam merupakan praktek yang diperbolehkan (mubah, tidak dilarang namun tidak dianjurkan). Islam memperbolehkan seorang pria beristri hingga empat orang istri dengan syarat sang suami harus berbuat adil terhadap seluruh istrinya. Hal ini disebutkan dalam Quran surah an-Nisa ayat 3
yang artinya: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bila mana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi; dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki”.
         Nabi Muhammad, nabi utama agama Islam melakukan praktik poligami pada delapan tahun sisa hidupnya, sebelumnya ia beristri hanya satu orang selama 28 tahun. Setelah istrinya saat itu meninggal (Khadijah) barulah ia menikah dengan  beberapa wanita. Kebanyakan mereka yang diperistri Muhammad adalah janda mati, kecuali Aisyah.
          Film ini memberikan penjelasan kepada masyarakat kalau tokoh (Irfan). Poligami dengan janda yang hidupnya penuh dengan kesedihan tanpa cinta dan kasih sayang dari seorang pria.
           Film ini lebih dominan menceritakan nilai kesabaran, ini dapat dilhat dari pengorbanan dan kesabaran dari istri pertama yang merelakan suaminya menikah dengan orang lain. Menikahi cinta pertama suaminya.
           Sabar menurut bahasa berarti menahan dan mengekang. Di antaranya disebutkan pada Q.S Al-Kahfi:28
yang artinya “Dan tahanlah dirimu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan di senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka”.
            Macam-macam sabar Dalam al-Quran Imam Ghazali berkata, “bahwa sabar itu ada dua, pertama bersifat badani (fisik), seperti menanggung beban dengan badan, berupa pukulan yang berat atau sakit yang kronis. Kedua adalah al-Shabaru al-Nafsi (kesabaran moral) dari syahwat-syahwat naluri dan tuntutan-tuntutan hawa nafsu.
       Bentuk-Bentuk Kesabaran
1.      Sabar dalam ketaatan kepada Allah
2.      Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan
3.      Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah


 Aspek-Aspek Kesabaran Sebagaimana yang digambarkan dalam Hadits
1. Sabar terhadap musibah.
Sabar terhadap musibah merupakan aspek kesabaran yang paling sering dinasehatkan banyak orang. Karena sabar dalam aspek ini merupakan bentuk sabar yang Dalam sebuah hadits diriwayatkan, :
Dari Anas bin Malik ra, bahwa suatu ketika Rasulullah SAW melewati seorang wanita yang sedang menangis di dekat sebuah kuburan. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, ‘Bertakwalah kepada Allah, dan bersabarlah.’ Wanita tersebut menjawab, ‘Menjauhlah dariku, karena sesungguhnya engkau tidak mengetahui dan tidak bisa merasakan musibah yang menimpaku.’ Kemudian diberitahukan kepada wanita tersebut, bahwa orang yang menegurnya tadi adalah Rasulullah SAW. Lalu ia mendatangi pintu Rasulullah SAW dan ia tidak mendapatkan penjaganya. Kemudian ia berkata kepada Rasulullah SAW, ‘(maaf) aku tadi tidak mengetahui engkau wahai Rasulullah SAW.’ Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya sabar itu terdapat pada hentakan pertama.’ (HR. Bukhari Muslim)
2. Sabar ketika menghadapi musuh (dalam berjihad).
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda : Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Janganlah kalian berangan-angan untuk menghadapi musuh. Namun jika kalian sudah menghadapinya maka bersabarlah (untuk menghadapinya).” HR. Muslim.
3. Sabar berjamaah, terhadap amir yang tidak disukai.
Dalam sebuah riwayat digambarkan; Dari Ibnu Abbas ra beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang melihat pada amir (pemimpinnya) sesuatu yang tidak disukainya, maka hendaklah ia bersabar. Karena siapa yang memisahkan diri dari jamaah satu jengkal, kemudian ia mati. Maka ia mati dalam kondisi kematian jahiliyah. (HR. Muslim)
4. Sabar terhadap jabatan & kedudukan.
Dalam sebuah riwayat digambarkan : Dari Usaid bin Hudhair bahwa seseorang dari kaum Anshar berkata kepada Rasulullah SAW; ‘Wahai Rasulullah, engkau mengangkat (memberi kedudukan) si Fulan, namun tidak mengangkat (memberi kedudukan kepadaku). Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya kalian akan melihat setelahku ‘atsaratan’ (yaitu setiap orang menganggap lebih baik dari yang lainnya), maka bersabarlah kalian hingga kalian menemuiku pada telagaku (kelak). (HR. Turmudzi).
5. Sabar dalam kehidupan sosial dan interaksi dengan masyarakat.
Dalam sebuah hadits diriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, ‘Seorang muslim apabila ia berinteraksi dengan masyarakat serta bersabar terhadap dampak negatif mereka adalah lebih baik dari pada seorang muslim yang tidak berinteraksi dengan masyarakat serta tidak bersabar atas kenegatifan mereka. (HR. Turmudzi)
6. Sabar dalam kerasnya kehidupan dan himpitan ekonomi
Dalam sebuah riwayat digambarkan; ‘Dari Abdullah bin Umar ra berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘Barang siapa yang bersabar atas kesulitan dan himpitan kehidupannya, maka aku akan menjadi saksi atau pemberi syafaat baginya pada hari kiamat. (HR. Turmudzi).

PENUTUP
A.      Kesimpulan
        Dakwah adalah upaya untuk mengajarkan nilai kebaikan pada orang-orang atau mentransfer ilmu ( nilai religi ) kepada orang lain. Sedangka sabar adalah menahan hawa nafsu, menurut al-Ghozali sabar ada dua yaitu badani dan al-shabaru al-nafsi kesabaran moral dari syahwat-syahwat naluri dan tuntutan-tuntutan hawa nafsu. Poligami adalah menikah lebih dari satu istri.[1]      
                               Singkat cerita film yan berjudul Kehormatan di balik kerudung, patutlah kita jadikan tauladan bagi kita umat muslim, gelorakan sikap sabar menerima musibah maupun cobaan dalam menjalani lika-liku kehidupan menjadikan hamba yang penuh syukur dan selalu ingat kepada sang pemberi rahmat dan maha meninggikan derajat.



DAFTAR PUSTAKA
·         http: //tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/sabar-menurut-al-quran/
·         http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=poligami dalam islam&oldid=6639037”
·         Saputra Wahidin, Pengantar Ilmu Dakwah, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2012
·         KBBI


[1] Drs. Wahidin Saputra, M.A. Pengantar Ilmu Dakwah, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2012, Hlm 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar