MENANAMKAN SIFAT ‘IFFAH DALAM FILM “KETIKA CINTA BERTASBIH
1”
Makalah
Disusun Guna Memenuhi
Tugas Mata Kuliah : Bahasa Indonesia
Dosen Pngampu: Ibu Primi,
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN DAKWAH / BKI 2013
I.
Pendahuluan
A.
Latar
Belakang
‘Iffah adalah sifat untuk menjaga diri
dari sebab-sebab kerusakan, menjauhkan diri dari perbuatan zina dan fitnah
wanita.” (http: jabal-uhud.com)
‘Iffah merupakan akhlaq paling
tinggi dan dicintai Allah Swt. Oleh sebab itulah sifat ini perlu dilatih sejak
anak-anak masih kecil, sehingga memiliki kemampuan dan daya tahan terhadap
keinginan-keinginan yang tidak semua harus dituruti karena akan membahayakan
saat telah dewasa. Dari sifat ‘iffah inilah akan lahir sifat-sifat mulia
seperti: sabar, qana’ah, jujur, santun, dan akhlak terpuji lainnya.
Pada
dasarnya manusia terlahirkan dalam
keadaan suci. Akan tetapi seiring waktu
dalam menjalani kehidupan didunia ini banyak orang kehilangan kehormatannya karena tidak ternanamnya
sifat ‘iffah dengan kuat dalam dirinya, selebih-lebihnya dalam menjalin
cinta dengan lawan jenis.
Cinta adalah sesuatu yang jarang
diucapkan dan didengar orang. Begitu jarangnya, sampai persoalan cinta dianggap
masalah sepele dan tidak perlu pembahasan khusus, karena setiap insan manusia
pasti pernah mengalami dan merasakan cinta. Padahal cinta merupakan sesuatu
yang mendasar dan paling banyak mempengaruhi kepribadian seseorang. Dalam ilmu
psikologi, disinggung mengenai jiwa
manusia yang terdiri dari tiga bagian yaitu kognitif, afektif dan
psikomotor. Tentunya cinta akan mempengaruhi ketiga bagian jiwa itu. (Farida, 2011:
14)
Banyak krisis yang melanda bangsa
kita, salah satu krisis itu adalah krisis moral yang mendera para pemuda
Indonesia. Para pemuda Indonesia mengalami
penurunan moral yang disebabkan oleh kesalahan dalam mengartikan cinta
(persepsi tentang cinta). Krisis ini membuat hidup kita kacau dan mampu
menggelincirkan kita kedalam jurang perdebatan, keragu-raguan dan ketidakpercayaan.
Bilamana kita mampu
memahami cinta dengan benar dari segi iIslam, maka seseorang bisa menjadi hamba
Allah yang mulia. Dengan demikian yang harus dilakukan umat muslim agar mampu
memahami cinta dengan benar menjadi sangat signifikan untuk dikaji, agar kita
bisa menjadi manusia yang diridhoi oleh Allah.
Rangkaian cerita dari sebuah film dengan
judul aslinya yaitu “Ketika Cinta Bertasbih” (KCB), merupakan salah satu film yang
bisa kita jadikan contoh sebagai media dakwah, makalah ini saya membidik dari
sisi isi cerita menggambarkan sikap iffah dari beberapa tokoh dari film
tersebut.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas, pertanyaan dalam makalah ini adalah mengetahui apa
sajakah contoh-contoh sifat ‘iffah yang patut diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari,yang bersumber pada film “KCB 1”?
C.
Tujuan Penulisan
Makalah
ini disususun dengan tujuan untuk
mengetahui contoh-contoh sifat ‘iffah dan memotivasi pada para pembaca
agar menanamkan sifat ‘iffah dalam keseharianya.
D.
Signifikansi
Makalah ini diharapkan
dapat memberikan manfaat, baik teoritis (signifikansi teoritis) maupun praktis
(signifikansi praktis) Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan
sumbangan pemikiran bagi khasanah pengembangan dakwah khususnya Jurusan Dakwah
Islam yang mempunyai konsentrasi pada bidang bimbingan penyuluhan Islam.
Secara praktis makalah ini
diharapkan mampu menjadi tolak ukur bagi para da’i khususnya dan umat Islam
pada umumnya dalam melaksanakan aktivitas dakwah, salah satu aktivitas
dakwah melalui pengkajian film-film Islam Indonesia.
E.
Tinjauan Pustaka
Dalam makalah ini, penulis akan
mendeskripsikan pada beberapa buku yang ada relevansinya dengan judul di atas.
1.
Buku
karangan Abdullah Nasih Ulwan dengan judul “Cinta dalam Pandangan Islam”,bertujuan
untuk mengetahui sifat-sifat ‘iffah dalam jalinan cinta dari sudut
pandang islam.
2.
Buku
bacaan karangan DR Shahba’ Muhammad Bunduq dengan judul “Memahami Cinta dengan
Benar”.,dalam buku ini berisikan makna-makna cinta secara mendalam dan
bertujuan untuk mengetahui arti cinta secara mendasar sehingga tidak menimbulkan
persepsi yang salah.
3.
Al-Qur’an
terjemahan Depag, terbitan PT CORDOBA INTERNASIONAL INDONESIA. Bertujuan
sebagai dalil-dalil penguat pernyataan-pernyataan yang dipaparkan penulis.
4.
Ensiklopedia
Wanita Muslimah ,pada intinya buku
karangan Haya binti Mubarok Al-Barik,bertujuan untuk memperkuat makna dari ‘iffah
itu sendiri dengan harapan agar makna itu lebih bisa dipahami secara
mendetail, spesifik dan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang
dakwah Islami.
5.
KBBI
dalam makalah ini telah diambil pula makna dari kata ‘iffah, dengan
tujuan untuk membatasi makna‘iffah dengan tujuan diperoleh makna yang
lebih spesifik.
II.
Pembahasan
Rangkaian film “KCB 1” alur ceritanya
berisikan kisah cinta yang dialami oleh seorang lelaki muslim dan wanita muslim
yang sama-sama mengenyang pendidikan di Universitas Kairo Mesir, mereka adalah
Khoirul Adzam dan Ana Athoufun Nisa. Meskipun harus mengalami cobaan yang
datang bertubi-tubi mereka tetap tenang dan tegar dalam menghadapinya, cinta
mereka dilandasi dengan rasa iman dan taqwa semata-mata karena Allah dan akhirnya
terlahirlah keluarga harmonis dan terjaga pula kesucian cinta mereka. Menurut
para penyair cinta ,bahwasanya cinta suci adalah bilamana seseorang lelaki mencintai seorang
wanita dengan cinta yang tulus ,suci, bebas syahwat dan jauh dari perkataan
cabul dan perbuatan keji. (Nasih Ulwan, 2007: 101)
Masyarakat sering menyatakan cinta
itu suci yang merupakan anugerah sang
Khaliq. Akan tetapi kesucian cinta itu bisa musnah karena ternodai oleh dosa
yang kita perbuat, sama halnya dengan diri kita, mulanya kita terlahir dengan
keadaan suci seiring waktu kesucian itu ternodai pula akibat perilaku negatif kita.
Oleh karena itu, kesucian itu haruslah dijaga salah satunya dengan menjaga
kesucian diri. Khususnya dalam menjaga kesucian hubungan dengan lain jenis yang
belum mahram kita. Hal ini dapat kita perhatikan pada adegan pertemuan Adzam
dan Elina membahas tentang persiapan menyambut kedatangan ayahnya bersama
sahabat ayahnya, dalam hal ini Adzam diminta untuk menyiapkan menu ikan bakar,
dan diakhir pembicaraan mereka berdua ada sedikit sikap bercanda dari Elina
sambil berjalan dan menoleh sebentar kepada Adzam, seketika itu juga Adzam
menundukkan pandangannya dan rasa kagum dengan Elina ada dalam hati Adzam,
karena kecantikan dan ,kecerdasannya. Dari adegan ini dapat kita jadikan
pelajaran hendaknya kita menjaga pandangan dengan lawan jenis yang belum mahram
kita,kecuali saat kita membahas hal-hal yang penting kita diperbolehkan
memandang orang yang mengajak bicara kita sebagai bentuk penghormatan.Allah
berfirman dalam Al Qur’an :
“Katakanlah
kepada laki-laki yang beriman agar mereka menundukkan pandangannya dan
memelihara kemaluannya . yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguh
Allah mengetahui apa yang mereka perbuat. (Q.S An-Nuur[24]:30) (Depag RI
,2012: 353)
Contoh lain dari
sikap menjaga kesucian diri yaitu seorang lelaki tidak berkhalwat dengan
seorang wanita yang tidak halal baginya, dan berusaha menolak ajakan maksiat. Dari
Jabir Ra,.ia berkata Rasulullah bersabda “ketahuilah bahwa sseorang
laki-laki yang bukan mahram tidak boleh bermalam dirumah wanita yang sudah
menikah,kecuali suaminya ada di dalam rumahnya atau wanita itu bersama
mahramnya .”(Depag RI, 2012: 518). Adapun hadits ini dapat kita contohkan
saat adegan Khusna yang tidak sembarang dalam menerima tamu, sewaktu ada tamu
seorang laki-laki ia tidak segera menyuruh masuk tamu itu melainkan ia
mempersilahkan ruang tamu yang ada diteras depan, dan ia tidak ingin
berlama-lama menemui tamu itu dikarenakan suaminya sedang tidak ada dirumah,
jadi setelah selesai kepentingan tamu itu ia segera masuk kedalam rumah lagi.
Sifat ‘iffah dapat
dimaknai pula dengan mengekang diri dari memperuntutkan hawa nafsu. (Mubarok
Al-Barik, 2007: 123) .Hal ini tergambarkan saat adegan Adzam menerima telfon
dari Elina. Malam itu Elina mengatakan
akan memberi hadiah berupa ciuman kepada Adzam atas kepuasan masakan soto Tegal
buatan adzam saat ultahnya. Mendengar perkataan itu Adzam menolak dan segera
menutup telfon dia, lalu saat mereka pulang ke Indonesia tiba-tiba Elina
mendekati Adzam dan menanyakan alasan mengapa menolak hadiah ciuman darinya.
Seharusnya Adzam senang seperti orang-orang yang pernah diberi ciuman oleh
Elina, kemudian Adzam menjawab bahwa ciuman itu bukanlah hadiah akan tetapi
musibah baginya, karena bisa menodai kesucian dirinya. Menjaga kesucian diri
amatlah penting , hal ini dibuktikan dalam ilmu fiqih yan pertama kali dibahas
adalah masalah thaharah.
Salah satunya menjaga kesucian dalam
menjalin hubungan dengan lawan jenis yang bukan mahram kita, cintailah dengan
sewajarnya saja janganlah diri kita dikuasai oleh nafsu, karena nafsu itu
cenderung mengajak kita pada keburukan, sesuai dengan firman Allah SWT.
“Sesungguhnya
nafsu itu selalu menyuruh kita kepada keburukan”
(Q.S Yusuf [12]: 55). (Depag RI, 2012: 242 )
Saat cinta bergejolak maka nafsu akan
mengiringinya bahkan sering kali terjadinya zina dilingkungan salah satu
penyebabnya yaitu tidak mampu menahan nafsu. Oleh sebab itu kita haruslah
menanamkan sikap ‘iffah (menjaga kesucian diri) dalam diri kita.
III.
Kesimpulan
Singkat cerita
film yan berjudul Ketika Cinta Bertasbih (KCB) 1, patutlah kita jadikan
tauladan bagi kita umat muslim, gelorakan sikap ‘iffah agar terjaga
kesucian lahir maupun batin kita dan menjadikan sifat ‘iffah mampu
menjaga kemuliaan eksistensi manusia. Menjaga kesucian diri amatlah penting,
hal ini terbukti dalam ilmu fiqih yang pertama kali dibahas adalah bab thaharah.
Daftar
Pustaka
Farida, Psikologi Pasien, Nora Media Enterprise, Kudus, 2011
Mubarok Al-Barik binti Haya, Ensiklopedia Wanita Muslimah, Darul
Falah,
Jakarta, 2007
Muhammad Bunduq Shahba’, Memahami
Cinta dengan Benar, Irsyad Baitus Salam, Bandung,
2007
Nashih Ulwan Abdullah, Cinta
dalam Pandangan Islam, Irsyad Baitus Salam, Bandung, 2007
Departemen Agama RI, 2012, Al Quran dan Terjemahan, Bandung, 2012
http:// jabal-uhud.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar