Kamis, 24 Oktober 2013

makalah menanamkan sifat iffah dalam film "ketika cinta bertasbih"



MENANAMKAN SIFAT ‘IFFAH DALAM FILM “KETIKA CINTA BERTASBIH 1”


Makalah
Disusun Guna Memenuhi
Tugas Mata Kuliah : Bahasa Indonesia
Dosen Pngampu: Ibu Primi,


 














 


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN DAKWAH / BKI 2013



I.                        Pendahuluan
A.                     Latar Belakang
                         ‘Iffah adalah sifat untuk menjaga diri dari sebab-sebab kerusakan, menjauhkan diri dari perbuatan zina dan fitnah wanita.” (http: jabal-uhud.com)
            ‘Iffah merupakan  akhlaq paling tinggi dan dicintai Allah Swt. Oleh sebab itulah sifat ini perlu dilatih sejak anak-anak masih kecil, sehingga memiliki kemampuan dan daya tahan terhadap keinginan-keinginan yang tidak semua harus dituruti karena akan membahayakan saat telah dewasa. Dari sifat ‘iffah inilah akan lahir sifat-sifat mulia seperti: sabar, qana’ah, jujur, santun, dan akhlak terpuji lainnya.
                                    Pada dasarnya  manusia terlahirkan dalam keadaan suci. Akan  tetapi seiring waktu dalam menjalani kehidupan didunia ini banyak orang  kehilangan kehormatannya karena tidak ternanamnya sifat ‘iffah dengan kuat dalam dirinya, selebih-lebihnya dalam menjalin cinta dengan lawan jenis.
                        Cinta adalah sesuatu yang jarang diucapkan dan didengar orang. Begitu jarangnya, sampai persoalan cinta dianggap masalah sepele dan tidak perlu pembahasan khusus, karena setiap insan manusia pasti pernah mengalami dan merasakan cinta. Padahal cinta merupakan sesuatu yang mendasar dan paling banyak mempengaruhi kepribadian seseorang. Dalam ilmu psikologi, disinggung mengenai jiwa  manusia yang terdiri dari tiga bagian yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Tentunya cinta akan mempengaruhi ketiga bagian jiwa itu. (Farida, 2011: 14)
                        Banyak krisis yang melanda bangsa kita, salah satu krisis itu adalah krisis moral yang mendera para pemuda Indonesia. Para pemuda Indonesia mengalami  penurunan moral yang disebabkan oleh kesalahan dalam mengartikan cinta (persepsi tentang cinta). Krisis ini membuat hidup kita kacau dan mampu menggelincirkan kita kedalam jurang perdebatan, keragu-raguan dan ketidakpercayaan.
                                    Bilamana kita mampu memahami cinta dengan benar dari segi iIslam, maka seseorang bisa menjadi hamba Allah yang mulia. Dengan demikian yang harus dilakukan umat muslim agar mampu memahami cinta dengan benar menjadi sangat signifikan untuk dikaji, agar kita bisa menjadi manusia yang diridhoi oleh Allah.
                        Rangkaian cerita dari sebuah film dengan judul aslinya yaitu “Ketika Cinta Bertasbih” (KCB), merupakan salah satu film yang bisa kita jadikan contoh sebagai media dakwah, makalah ini saya membidik dari sisi isi cerita menggambarkan sikap iffah dari beberapa tokoh dari film tersebut.

B.                 Rumusan Masalah
                                    Berdasarkan latar belakang diatas, pertanyaan dalam makalah ini adalah mengetahui apa sajakah contoh-contoh sifat ‘iffah yang patut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,yang bersumber pada film “KCB 1”?
C.                Tujuan Penulisan
                        Makalah ini disususun dengan tujuan  untuk mengetahui contoh-contoh sifat ‘iffah dan memotivasi pada para pembaca agar menanamkan sifat ‘iffah dalam keseharianya.
D.                Signifikansi
                        Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik teoritis (signifikansi teoritis) maupun praktis (signifikansi praktis) Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi khasanah pengembangan dakwah khususnya Jurusan Dakwah Islam yang mempunyai konsentrasi pada bidang bimbingan penyuluhan Islam.
                        Secara praktis makalah ini diharapkan mampu menjadi tolak ukur bagi para da’i khususnya dan umat Islam pada umumnya dalam melaksanakan aktivitas dakwah, salah satu aktivitas dakwah melalui pengkajian film-film Islam Indonesia.
E.                 Tinjauan Pustaka
            Dalam makalah ini, penulis akan mendeskripsikan pada beberapa buku yang ada relevansinya dengan judul di atas.
1.                  Buku karangan Abdullah Nasih Ulwan dengan judul “Cinta dalam Pandangan Islam”,bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat ‘iffah dalam jalinan cinta dari sudut pandang islam.
2.                  Buku bacaan karangan DR Shahba’ Muhammad Bunduq dengan judul “Memahami Cinta dengan Benar”.,dalam buku ini berisikan makna-makna cinta secara mendalam dan bertujuan untuk mengetahui arti cinta secara mendasar sehingga tidak menimbulkan persepsi yang salah.

3.                  Al-Qur’an terjemahan Depag, terbitan PT CORDOBA INTERNASIONAL INDONESIA. Bertujuan sebagai dalil-dalil penguat pernyataan-pernyataan yang dipaparkan penulis.
4.                  Ensiklopedia Wanita Muslimah ,pada intinya  buku karangan Haya binti Mubarok Al-Barik,bertujuan untuk memperkuat makna dari ‘iffah itu sendiri dengan harapan agar makna itu lebih bisa dipahami secara mendetail, spesifik dan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang dakwah Islami.
5.                  KBBI dalam makalah ini telah diambil pula makna dari kata ‘iffah, dengan tujuan untuk membatasi makna‘iffah dengan tujuan diperoleh makna yang lebih spesifik.   

II.                        Pembahasan
                         Rangkaian film “KCB 1” alur ceritanya berisikan kisah cinta yang dialami oleh seorang lelaki muslim dan wanita muslim yang sama-sama mengenyang pendidikan di Universitas Kairo Mesir, mereka adalah Khoirul Adzam dan Ana Athoufun Nisa. Meskipun harus mengalami cobaan yang datang bertubi-tubi mereka tetap tenang dan tegar dalam menghadapinya, cinta mereka dilandasi dengan rasa iman dan taqwa semata-mata karena Allah dan akhirnya terlahirlah keluarga harmonis dan terjaga pula kesucian cinta mereka. Menurut para penyair cinta ,bahwasanya cinta suci adalah  bilamana seseorang lelaki mencintai seorang wanita dengan cinta yang tulus ,suci, bebas syahwat dan jauh dari perkataan cabul dan perbuatan keji. (Nasih Ulwan, 2007: 101)
                        Masyarakat sering menyatakan cinta itu suci yang  merupakan anugerah sang Khaliq. Akan tetapi kesucian cinta itu bisa musnah karena ternodai oleh dosa yang kita perbuat, sama halnya dengan diri kita, mulanya kita terlahir dengan keadaan suci seiring waktu kesucian itu ternodai pula akibat perilaku negatif kita. Oleh karena itu, kesucian itu haruslah dijaga salah satunya dengan menjaga kesucian diri. Khususnya dalam menjaga kesucian hubungan dengan lain jenis yang belum mahram kita. Hal ini dapat kita perhatikan pada adegan pertemuan Adzam dan Elina membahas tentang persiapan menyambut kedatangan ayahnya bersama sahabat ayahnya, dalam hal ini Adzam diminta untuk menyiapkan menu ikan bakar, dan diakhir pembicaraan mereka berdua ada sedikit sikap bercanda dari Elina sambil berjalan dan menoleh sebentar kepada Adzam, seketika itu juga Adzam menundukkan pandangannya dan rasa kagum dengan Elina ada dalam hati Adzam, karena kecantikan dan ,kecerdasannya. Dari adegan ini dapat kita jadikan pelajaran hendaknya kita menjaga pandangan dengan lawan jenis yang belum mahram kita,kecuali saat kita membahas hal-hal yang penting kita diperbolehkan memandang orang yang mengajak bicara kita sebagai bentuk penghormatan.Allah berfirman dalam Al Qur’an :
Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya . yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguh Allah mengetahui apa yang mereka perbuat. (Q.S An-Nuur[24]:30) (Depag RI ,2012: 353)
            Contoh lain dari sikap menjaga kesucian diri yaitu seorang lelaki tidak berkhalwat dengan seorang wanita yang tidak halal baginya, dan berusaha menolak ajakan maksiat. Dari Jabir Ra,.ia berkata Rasulullah bersabda “ketahuilah bahwa sseorang laki-laki yang bukan mahram tidak boleh bermalam dirumah wanita yang sudah menikah,kecuali suaminya ada di dalam rumahnya atau wanita itu bersama mahramnya .”(Depag RI, 2012: 518). Adapun hadits ini dapat kita contohkan saat adegan Khusna yang tidak sembarang dalam menerima tamu, sewaktu ada tamu seorang laki-laki ia tidak segera menyuruh masuk tamu itu melainkan ia mempersilahkan ruang tamu yang ada diteras depan, dan ia tidak ingin berlama-lama menemui tamu itu dikarenakan suaminya sedang tidak ada dirumah, jadi setelah selesai kepentingan tamu itu ia segera masuk kedalam rumah lagi.
            Sifat ‘iffah dapat dimaknai pula dengan mengekang diri dari memperuntutkan hawa nafsu. (Mubarok Al-Barik, 2007: 123) .Hal ini tergambarkan saat adegan Adzam menerima telfon dari Elina.  Malam itu Elina mengatakan akan memberi hadiah berupa ciuman kepada Adzam atas kepuasan masakan soto Tegal buatan adzam saat ultahnya. Mendengar perkataan itu Adzam menolak dan segera menutup telfon dia, lalu saat mereka pulang ke Indonesia tiba-tiba Elina mendekati Adzam dan menanyakan alasan mengapa menolak hadiah ciuman darinya. Seharusnya Adzam senang seperti orang-orang yang pernah diberi ciuman oleh Elina, kemudian Adzam menjawab bahwa ciuman itu bukanlah hadiah akan tetapi musibah baginya, karena bisa menodai kesucian dirinya. Menjaga kesucian diri amatlah penting , hal ini dibuktikan dalam ilmu fiqih yan pertama kali dibahas adalah masalah thaharah.
            Salah satunya menjaga kesucian dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis yang bukan mahram kita, cintailah dengan sewajarnya saja janganlah diri kita dikuasai oleh nafsu, karena nafsu itu cenderung mengajak kita pada keburukan, sesuai dengan firman Allah SWT.
            “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kita kepada keburukan”
(Q.S Yusuf [12]: 55). (Depag RI, 2012: 242 )
                         Saat cinta bergejolak maka nafsu akan mengiringinya bahkan sering kali terjadinya zina dilingkungan salah satu penyebabnya yaitu tidak mampu menahan nafsu. Oleh sebab itu kita haruslah menanamkan sikap ‘iffah (menjaga kesucian diri) dalam diri kita.
                       












III.                        Kesimpulan
            Singkat cerita film yan berjudul Ketika Cinta Bertasbih (KCB) 1, patutlah kita jadikan tauladan bagi kita umat muslim, gelorakan sikap ‘iffah agar terjaga kesucian lahir maupun batin kita dan menjadikan sifat ‘iffah mampu menjaga kemuliaan eksistensi manusia. Menjaga kesucian diri amatlah penting, hal ini terbukti dalam ilmu fiqih yang pertama kali dibahas adalah bab thaharah.





Daftar Pustaka

Farida, Psikologi Pasien, Nora Media Enterprise, Kudus, 2011
Mubarok Al-Barik binti Haya, Ensiklopedia Wanita Muslimah, Darul Falah,
            Jakarta,   2007
Muhammad Bunduq Shahba’, Memahami Cinta dengan Benar, Irsyad Baitus Salam,        Bandung, 2007
Nashih Ulwan Abdullah, Cinta dalam Pandangan Islam, Irsyad Baitus Salam,       Bandung, 2007
Departemen Agama RI, 2012, Al Quran dan Terjemahan, Bandung, 2012
http:// jabal-uhud.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar