KEPRIBADIAN ANAK SHOLEH DALAM FILM
“HAFALAN SHALAT DELISA”
Makalah
Disusun Guna Memenuhi
Tugas
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia
Dosen
Pngampu: Ibu Primi,
![]() |
Disusun Oleh:
Anak Dakwah c
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
NEGERI KUDUS
JURUSAN DAKWAH / BKI 2013
I.
PENDAHULUAN
A. LatarBelakang
Manusia adalah makhluk Allah yang paling
mulia, dan dilebihkan atas makhluk yang lain. Salah satu kelebihan tersebut
adalah Allah memberikan akal terhadap manusia. Sehingga dengan akal tersebut
manusia bisa merasakan, menimbang dan menentukan jalan hidupnya. Dengan adanya
akal tersebut, manusia bisa membuat pilihan secara sukarela, bebas dari segala
kendala ataupun tekanan yang ada.
Film “Hafalan Shalat Delisa” mengisahkan
seorang anak yang teguh atas jalan hidupnya, dia bernama Delisa yang berusaha
keras menghafal bacaan shalat. Pada saat Delisa sedang ujian hafalan shalat,
tiba di penghujung kalimat hafalannya, air tsunami datang, semua orang
berteriak, namun Delisa tetap melanjutkan hafalannya tersebut.
Film ini berkaitan tentang ajaran agama
yaitu sikap optimis dan pantang menyerah. Sikap tersebut bisa dijadikan patokan
untuk anak yang ingin membentuk kepribadian yang sholeh. Peran orang tua juga
dibutuhkan dalam proses ini.
B. Rumusan Masalah
1. Apa
pelajaran yang bisa diambil dalam film “Hafalan Shalat Delisa”?
2. Bagaimana
cara untuk bisa memiliki kepribadian yang baik dalam proses menjadi anak yang
sholeh?
C. Tujuan Penulisan
Makalah ini disususun dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana kepribadian anak
yang sholeh.
D. Signifikasi
Masalah
Makalah ini diharapkan dapat memberikan
manfaat, baik teoritis (signifikansi teoritis) maupun praktis (signifikansi
praktis) Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pemikiran bagi khasanah pengembangan dakwah khususnya Jurusan Dakwah Islam yang
mempunyai konsentrasi pada bidang bimbingan penyuluhan Islam.
Secara praktis makalah ini diharapkan
mampu menjadi tolak ukur bagi para da’i khususnya dan umat Islam pada umumnya
dalam melaksanakan aktivitas dakwah, salah satu aktivitas dakwah melalui
pengkajian film-film Islam Indonesia.
E. Tinjauan Pustaka
Dalam makalah ini, penulis akan
mendeskripsikan pada beberapa buku yang ada relevansinya dengan judul di atas:
1.
Buku bacaan terjemahan
Achmad Sunarto dengan judul “Bekal Juru Dakwah”. Dalam buku ini berisikan beberapa
hadist untuk menjadi anak yang sholeh.
2.
Alqur-an Bayan
dari Depag RI terbitan Al-Qur’an Terkemuka. Sebagai tafsir penguat
pernyataan-pernyataan penulis.’
II.
PEMBAHASAN
A.
Pelajaran yang diambildalam film “Hafalan Shalat Delisa”
Film “Hafalan Shalat Delisa” terdapat pelajaran menarik yang bisa
diambil. Delisa sebagai tokoh utama dalam film ini, diceritakan sebagai anak
yang memiliki kepribadian yang kokoh. Hal itu terbukti dengan berbagai
penderitaan yang dialami, Delisa tetap mampu menguasai gejolak dalam jiwanya
dan bahkan dapat menjadi sosok yang bermanfaat bagi sekitarnya. Padahal Delisa
adalah anak kecil yang mengalami penderitaan yang sangat berat. Delisa
kehilangan salah satu kakinya, ibu dan ketiga kakaknya akibat tsunami Aceh
2004. Tetapi penderitaan yang luar biasa tersebut tidak membuat Delisa stress
dan putus asa.
Kepribadian yang kokoh dapat menjadikan anak menjadi sangat sabar. Kepribadian
yang bersumber dari keikhlasan terbukti mampu menghadapi permasalahan yang
sangat besar sekalipun. Dengan kejadian ini dapat diambil bahwa hakekat hidup
yang paling dalam ialah arti ikhlas yang sesungguhnya.
B.
Kepribadian yang baik dalam proses menjadi anak yang sholeh
Kepribadian ialah keseluruhan dari cara seseorang bereaksi,
bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain.[1]
Adapun beberapa kepribadian yang baik dalam proses menjadi anak yang soleh
sebagai berikut :
1.
Ikhlas
Ikhlas artinya membersihkan maksud dan motivasi
bertaqarrub kepada Allah dari berbagai maksud dan niat lain.[2] Atau mengesakan hanya Allah-lah sebagai
tujuan dalam berbuat kebajikan, yaitu dengan menjauhi dan mengabaikan
pandangan mahluk serta tujuan keduniaan dan senantiasa berkonsentrasi kepada
Allah semata.
Menjadi anak yang sholeh harus ikhlas. Ikhlas
dibutuhkan dalam proses pembentukan kepribadian seorang anak untuk menjadi
sholeh.
2.
Beriman
Nabi SAW. bersabda : “iman
itu adalah mengetahui dengan hati dan diucapkan dengan lisan serta dilakukan
dengan perbuatan melelui anggota badan.”[3]
Syarat untuk menjadi
anak yang sholeh kita haruslah beriman. Tanpa iman kita tidak akan pernah bisa
untuk menjadi anak yang sholeh seperti apa yang diharapkan orang tua.
3.
Memiliki
motivasi yang kuat
Motivasi ialah dorongan dari dalam maupun luar dari seseorang untuk
meraih tujuan yang diinginkan. Ini ditunjukkan oleh Delisa yang ingin bisa
menyelesaikan bacaan sholatnya agar mendapat hadiah dari uminya.
4.
Selalu
berfikiran positif dan syukur nikmat
Untuk meraih sebuah cita-cita atau apapun yang kita inginkan, kita
harus selalu mensyukuri nikmat dari Allah SWT.. Selain itu kita harus selalu
berfikiran positif tentang apa yang diberikan Allah kepada kita nantinya.
5.
Berbakti
kepada orang tua
Seorang anak yang baik dan sholeh adalah disamping beribadah kepada
Allah, juga selalu berbakti kepada orang tua. Anak yang demikianlah yang
termasuk penghuni surga.[4]
Hal itu diperlihatkan Delisa yang selu patuh kepada kedua orang tuanya.
III.
KESIMPULAN
Kepribadian yang kokoh dapat menjadikan anak menjadi sangat sabar.
Kepribadian yang bersumber dari keikhlasan terbukti mampu menghadapi
permasalahan yang sangat besar sekalipun. Dengan kejadian ini dapat diambil
bahwa hakekat hidup yang paling dalam ialah arti ikhlas yang sesungguhnya.
Menjadi anak yang sholeh dibutuhkan kepribadian yang baik. Beberapa
kepribadian itu antara lain seorang anak harus ikhlas, beriman, memiliki
motivasi yang kuat, selalu berfikiran positif dan syukur nikmat, dan berbakti
kepada orang tua.
DAFTAR PUSTAKA
Rahayu
Ekawati. PERILAKU KONSUMEN. Nora
Media Enterprise. Kudus. 2010.
http://www.muhammadzacky.com/2012/05/pengertian-ikhlas-menurut-islam.html?m=1
Achmad Sunarto. Bekal Juru Dakwah (Terjemah Lubabul Hadis). Al-Hidayah.
1998.
Departemen
Agama RI. Al-Qur’an Bayan. Al-Qur’an
Terkemuka. Depok. 2009.
[1]Ekawati Rahayu. PERILAKU KONSUMEN. Nora Media
Enterprise. Kudus. 2010. Hlm 45.
[2]http://www.muhammadzacky.com/2012/05/pengertian-ikhlas-menurut-islam.html?m=1
[3]Sunarto
Achmad. Bekal Juru Dakwah (Terjemah
Lubabul Hadis).Al-Hidayah. 1998. Hlm 20.
[4] Depag RI. Al-Qur’an Bayan. Al-Qur’an Terkemuka.
Depok. 2009. Hlm 504.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar