Kamis, 24 Oktober 2013

makalah kepribadian anak sholeh dalam film "Hafalan Sholat Delisa"

KEPRIBADIAN ANAK SHOLEH DALAM FILM “HAFALAN SHALAT DELISA”

Makalah
Disusun Guna Memenuhi
Tugas Mata Kuliah : Bahasa Indonesia
Dosen Pngampu: Ibu Primi,


 










Disusun Oleh:
Anak Dakwah c


 


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN DAKWAH / BKI 2013


I.              PENDAHULUAN
A.  LatarBelakang
Manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia, dan dilebihkan atas makhluk yang lain. Salah satu kelebihan tersebut adalah Allah memberikan akal terhadap manusia. Sehingga dengan akal tersebut manusia bisa merasakan, menimbang dan menentukan jalan hidupnya. Dengan adanya akal tersebut, manusia bisa membuat pilihan secara sukarela, bebas dari segala kendala ataupun tekanan yang ada.
Film “Hafalan Shalat Delisa” mengisahkan seorang anak yang teguh atas jalan hidupnya, dia bernama Delisa yang berusaha keras menghafal bacaan shalat. Pada saat Delisa sedang ujian hafalan shalat, tiba di penghujung kalimat hafalannya, air tsunami datang, semua orang berteriak, namun Delisa tetap melanjutkan hafalannya tersebut.
Film ini berkaitan tentang ajaran agama yaitu sikap optimis dan pantang menyerah. Sikap tersebut bisa dijadikan patokan untuk anak yang ingin membentuk kepribadian yang sholeh. Peran orang tua juga dibutuhkan dalam proses ini.
B.  Rumusan Masalah
1.      Apa pelajaran yang bisa diambil dalam film “Hafalan Shalat Delisa”?
2.      Bagaimana cara untuk bisa memiliki kepribadian yang baik dalam proses menjadi anak yang sholeh?
C.  Tujuan Penulisan
Makalah ini disususun dengan tujuan  untuk mengetahui bagaimana kepribadian anak yang sholeh.
D.  Signifikasi Masalah
Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik teoritis (signifikansi teoritis) maupun praktis (signifikansi praktis) Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi khasanah pengembangan dakwah khususnya Jurusan Dakwah Islam yang mempunyai konsentrasi pada bidang bimbingan penyuluhan Islam.
Secara praktis makalah ini diharapkan mampu menjadi tolak ukur bagi para da’i khususnya dan umat Islam pada umumnya dalam melaksanakan aktivitas dakwah, salah satu aktivitas dakwah melalui pengkajian film-film Islam Indonesia.
E.     Tinjauan Pustaka
Dalam makalah ini, penulis akan mendeskripsikan pada beberapa buku yang ada relevansinya dengan judul di atas:
1.      Buku bacaan terjemahan Achmad Sunarto dengan judul “Bekal Juru Dakwah”. Dalam buku ini berisikan beberapa hadist untuk menjadi anak yang sholeh.
2.      Alqur-an Bayan dari Depag RI terbitan Al-Qur’an Terkemuka. Sebagai tafsir penguat pernyataan-pernyataan penulis.’

II.           PEMBAHASAN
A.    Pelajaran yang diambildalam film “Hafalan Shalat Delisa”
Film “Hafalan Shalat Delisa” terdapat pelajaran menarik yang bisa diambil. Delisa sebagai tokoh utama dalam film ini, diceritakan sebagai anak yang memiliki kepribadian yang kokoh. Hal itu terbukti dengan berbagai penderitaan yang dialami, Delisa tetap mampu menguasai gejolak dalam jiwanya dan bahkan dapat menjadi sosok yang bermanfaat bagi sekitarnya. Padahal Delisa adalah anak kecil yang mengalami penderitaan yang sangat berat. Delisa kehilangan salah satu kakinya, ibu dan ketiga kakaknya akibat tsunami Aceh 2004. Tetapi penderitaan yang luar biasa tersebut tidak membuat Delisa stress dan putus asa.
Kepribadian yang kokoh dapat menjadikan anak menjadi sangat sabar. Kepribadian yang bersumber dari keikhlasan terbukti mampu menghadapi permasalahan yang sangat besar sekalipun. Dengan kejadian ini dapat diambil bahwa hakekat hidup yang paling dalam ialah arti ikhlas yang sesungguhnya.

B.     Kepribadian yang baik dalam proses menjadi anak yang sholeh
Kepribadian ialah keseluruhan dari cara seseorang bereaksi, bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain.[1] Adapun beberapa kepribadian yang baik dalam proses menjadi anak yang soleh sebagai berikut :
1.      Ikhlas
Ikhlas artinya membersihkan maksud dan motivasi bertaqarrub kepada Allah dari berbagai maksud dan niat lain.[2] Atau mengesakan hanya Allah-lah sebagai tujuan dalam berbuat kebajikan,  yaitu dengan menjauhi dan mengabaikan pandangan mahluk serta tujuan keduniaan dan senantiasa berkonsentrasi kepada Allah semata.
Menjadi anak yang sholeh harus ikhlas. Ikhlas dibutuhkan dalam proses pembentukan kepribadian seorang anak untuk menjadi sholeh.
2.      Beriman
Nabi SAW. bersabda : “iman itu adalah mengetahui dengan hati dan diucapkan dengan lisan serta dilakukan dengan perbuatan melelui anggota badan.”[3]
      Syarat untuk menjadi anak yang sholeh kita haruslah beriman. Tanpa iman kita tidak akan pernah bisa untuk menjadi anak yang sholeh seperti apa yang diharapkan orang tua.
3.      Memiliki motivasi yang kuat
Motivasi ialah dorongan dari dalam maupun luar dari seseorang untuk meraih tujuan yang diinginkan. Ini ditunjukkan oleh Delisa yang ingin bisa menyelesaikan bacaan sholatnya agar mendapat hadiah dari uminya.
4.      Selalu berfikiran positif dan syukur nikmat
Untuk meraih sebuah cita-cita atau apapun yang kita inginkan, kita harus selalu mensyukuri nikmat dari Allah SWT.. Selain itu kita harus selalu berfikiran positif tentang apa yang diberikan Allah kepada kita nantinya.
5.      Berbakti kepada orang tua
Seorang anak yang baik dan sholeh adalah disamping beribadah kepada Allah, juga selalu berbakti kepada orang tua. Anak yang demikianlah yang termasuk penghuni surga.[4] Hal itu diperlihatkan Delisa yang selu patuh kepada kedua orang tuanya.

III.        KESIMPULAN
Kepribadian yang kokoh dapat menjadikan anak menjadi sangat sabar. Kepribadian yang bersumber dari keikhlasan terbukti mampu menghadapi permasalahan yang sangat besar sekalipun. Dengan kejadian ini dapat diambil bahwa hakekat hidup yang paling dalam ialah arti ikhlas yang sesungguhnya.
Menjadi anak yang sholeh dibutuhkan kepribadian yang baik. Beberapa kepribadian itu antara lain seorang anak harus ikhlas, beriman, memiliki motivasi yang kuat, selalu berfikiran positif dan syukur nikmat, dan berbakti kepada orang tua.






DAFTAR PUSTAKA

Rahayu Ekawati. PERILAKU KONSUMEN. Nora Media Enterprise. Kudus. 2010.
http://www.muhammadzacky.com/2012/05/pengertian-ikhlas-menurut-islam.html?m=1
Achmad Sunarto. Bekal Juru Dakwah (Terjemah Lubabul Hadis). Al-Hidayah. 1998.
Departemen Agama RI. Al-Qur’an Bayan. Al-Qur’an Terkemuka. Depok. 2009.



[1]Ekawati Rahayu. PERILAKU KONSUMEN. Nora Media Enterprise. Kudus. 2010. Hlm 45.
[2]http://www.muhammadzacky.com/2012/05/pengertian-ikhlas-menurut-islam.html?m=1
[3]Sunarto Achmad. Bekal Juru Dakwah (Terjemah Lubabul Hadis).Al-Hidayah. 1998. Hlm 20.
[4] Depag RI. Al-Qur’an Bayan. Al-Qur’an Terkemuka. Depok. 2009. Hlm 504.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar