Sabtu, 16 November 2013
Makalah Telaah Rekonstruksi Teori Penelitian Agama
MAKALAH
TELAAH KONSTRUKSI TEORI PENELITIAN AGAMA
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliyah: Metode Study Islam
Dosen Pengampu: Irzum Farihah
Disususn Oleh :
1. Maslihatul Nurul Khusniyah (412080)
2. Tutik Rahmawati (412079)
3. Ilham Esti Nugroho (412075)
________________________________________
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN DAKWAH / BKI
TAHUN 2012 / 2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
konstruksi adalah cara membuat (menyusun) bangunan – bangunan (jembatan dan sebagainya); dan dapat pula berarti susunan dan hubungan kata di kalimat atau di kelompok kata. Sedangkan teori berarti pendapat yang dikemukakan sebagai suatu keterangan mengenai suatu peristiwa (kejadian); dan berarti pula asas-asas dan hukum-hukum umum yang dasar suatu kesenian atau ilmu pengetahuan. Selain itu, teori dapat pula berarti pendapat, cara-cara, dan aturan-aturan untuk melakukan sesuatu. Penelitian adalah upaya sistematis dan objektif untuk mempelajari suatu masalah dan menemukan prinsip-prinsip umum. Agama adalah yang paling sulit dari semua perkataan untuk didefinisikan karena agama adalah menyangkut lebih daripada hanya pikiran, yaitu perasaan dan kemauan.
Secara garis besar, pembahasan penelitian agama dan model-modelnya dibagi dua; pertama, penelitian agama; kedua, model-model penelitian agama. Penelitian agama diisi dengan penjelasan mengenai kedudukan penelitian agama dalam kompleks penelitian pada umumnya; elaborasi mengenai penelitian agama (reseach on religios) dan penelitian keagamaan (religius research); dan konstruksi teori penelitian keagamaan. Adapun bagian akhir tentang model-model penelitian keagamaan yang terdiri dari model penelitian Tafsir, model penelitian hadits, model penelitian fiqh/hukum Islam, model penelitian filsafat Islam, model penelitian. Dari ketiga model itu lah, yang membantu dalam memecahkan masalah-masalah didalam penelitian.
B. Rumusan Masalah
1. Bidang Penelitian apa saja yang terdapat dalam Penelitian Agama?
2. Bagaimanakah Model-model Penelitian Keagamaan?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Konstruksi Teori Penelitian Agama
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta Mengartikan konstruksi adalah cara membuat (menyusun) bangunan – bangunan (jembatan dan sebagainya); dan dapat pula berarti susunan dan hubungan kata di kalimat atau di kelompok kata. Sedangkan teori berarti pendapat yang dikemukakan sebagai suatu keterangan mengenai suatu peristiwa (kejadian); dan berarti pula asas-asas dan hukum-hukum umum yang dasar suatu kesenian atau ilmu pengetahuan. Selain itu, teori dapat pula berarti pendapat, cara-cara, dan aturan-aturan untuk melakukan sesuatu.
Selanjutnya, dalam ilmu penelitian teori-teori itu pada hakikatnya merupakan pernyataan mengenai sebab akibat atau mengenai adanya suatu hubungan positif antara gejala yang diteliti dari satu atau beberapa faktor tertentu dalam masyarakat. yang dimaksud dengan Konstruksi teori adalah susunan atau bangunan dari suatu pendapat, asas-asas atau hukum – hukum mengenai sesuatu yang antara suatu dan lainnya saling berkaitan, sehuingga membentuk suatu bangunan. (http://buanyakilmu.blogspot.com/2009/05/telaah-konstruksi-teori-penelitian.html).
Penelitian keagamaan merupakan penelitian yang objek kajiannya adalah agama sebagai produk interaksi social. Metode yang digunakan adalah metode-metode penelitian pada umumnya.
Kita tidak perlu menyusun teori penenlitian tersendiri, tetapi cukup meminjam teori ilmu-ilmu social yang sudah ada. Salah satu contoh teoriyang digunakan dalam penelitian keagamaan yang akan diungkapkan disini adalah penelitian Hj. Ummu Salamah adalah “Tradisi Tarekat dan Dampak Konsistensi Aktualisasinya terhadap Perilaku Sosial Penganut Tarekat (Studi Kasus Tarekat Tijaniah di Kabupaten Garut,Jawa Barat: dalam Perspektif perubahan social)”. Teori-teori yang digunakan dalam penelitiannya adalah sebagai berikut:
1. Teori perubahan social
2. Teori structural-fungsional
3. Teori antropologi dan sosiologi agama
4. Teori budaya dan tafsir budaya sibolik
5. Teori pertukaran social
6. Teori sikap
Penelitian di atas meminjam teori-teori yang dibangun dalam ilmu-ilmu social. Ia disebut penelitian keagamaan (religious research)dalam pandangan Midletton atau penelitian hidup agama dalam pandangan Juhaya S. Praja, karena objeknya adalah perilaku Tarekat Tijaniah.
B. Penelitian keagamaan
Penelitian keagamaan (Religion research) lebih mengutamakan pada agama sebagai system atau system keagamaan. Penelitian keagamaan yang objeknya adalah agama sebagai produksi interaksi social yakni tindakan dan sikap manusia. Miaslnya : “Interaksi ulama dan umara dalam kehidupan politik.”
Dengan demikian penelitian keagamaan adalah penelitian tentang praktek-praktek agama yang dilakukan oleh manusia secara individual dan kolektif. Dalam penelitian keagamaan terdapat 3 bidang penelitian :
1. Perilaku individu dan hubungannya dengan masyarakatnya yang didasarkan atas agama yang dianutnya.
2. Perilaku masyarakat atau suatu komunitas, baik perilaku politik, budaya maupun yang lainnya yang mendefinisikan dirinya sebagai penganut suatu agama.
3. Ajaran agama yang membentuk pranata sosial, corak perilaku, dan budaya masyarakat beragama.
C. Model-model Penelitian Keagamaan
Djamari, Dosen pascasarjana IKIP Bandung, menjelaskan bahwa kajian sosiologi agama menggunakan metode ilmiah. Pengumpulan data dan metode yang digunakan, antara lain dengan data sejarah, analisis komparatif lintas budaya, eksperimen yang terkontrol, observasi, survai sampel, dan analisis isi.
1. Analisi Sejarah
Supaya kita mengerti persoalan manusia sekarang, kita harus mempelajari sejarah manusia di masa silam. Dalm hal ini, sejarah hanya sebagai metode analisis atas dasar pemikiran bahwa sejarah dapat menyajikan gambaran tentang unsure-unsur yang mendukung timbulnya suatu lembaga. Pendekatan sejarah bertujuan untuk menemukan inti karakter agama dengan meneliti sumber klasik sebelum dicampuri yang lain. Dalam menggunakan data historis, sejarawan cenderung menyajikan detail dari situasi sejarah dan eksplanasi tentang sebab akibat dari suatu kejadian. Sedangkan sosiolog lebih tertarik pada persoalan apakah situasi social tertentu diikuti oleh situasi social yang lain. Sociolog mencari pola hubungan antara kejadian social dan karakteristik agama.
2. Analisis Lintas Budaya
Dengan membandingkan pola-pola social keagamaan dibeberapa daerah kebudayaan, sosiolog dapat memperoleh gambaran tentang korelasi unsure budaya tertentu atau kondisi social-kultural secara umum.
3. Eksperimen
Penelitian yang menggunakan eksperimen agak sulit dilakukan dalam penelitian agama. Namun, dalam beberapa hal, eksperimen dapat dilakukan dalam penelitian agama, misalnya untuk mengevaluasi perbedaan hasil belajar dari beberapa model pendidikan agama.
4. Obserfasi Partisipasif
Dengan partisipasi dalam kelompok, peneliti dapat mengobservasi perilaku orang-orang dalam konteks religius. Orang yang diobservasi boleh mengetahui bahwa dirinya sedang diobservasi atau secara diam-diam. Di antara kelebihan ini adalah memungkinkannya pengamatan simbolik antaranggota kelompok secara mendalam. Adapun salah satu kelemahannya adalah terbatasnya data pada kemampuan observasi.
5. Riset Survei dan Analisis Statistik
Penelitian survei dilakukan dengan penyusunan kuesioner, interview dengan sampel dari suatu populasi. Sampel dapat berupa organisasi keagamaan atau penduduk suatu kota atau desa. Prosedur penelitian ini dinilai sangat berguna untuk memperlihatkan korelasi dari karakteristik keagamaan tetentu dengan sikap social atau atribut keagamaan tertentu.
6. Analisis Isi
Dengan metode ini, peneliti mencoba mencari keterangan dari tema-tema agama, baik berupa tulisan, buku-buku khotbah, doktrin maupun deklarasi teks, dan yang lainya. Umpamanya sikap kelompok keagamaan dianalisis dari substansi ajaran kelompok tertentu. (Atang ABK Dkk, 2011: 59-66)
Suatu peneliti dapat dilakukan jika si peneliti bersikap kritis atau bersikap dan berpikir ilmiah. Dalam hubungan konseptualisasi (member makna dua variable atau lebih) adalah kegiatan utama dari ilmu atau teori. Disini, kemudian dinyatakan bahwa konseptualisasi adalah unsure utama kegiatan penelitian (Mulkhan, 2002: 326). Penelitian yang dilakukan hharus berdasarkan kebenaran.
Kebenaran dapat ditemukan melalui proses nonilmiah dan ilmiah. Proses nonilmiah meliputi:
1. Akal Sehat
Akal sehat merupakan konsep yang memuaskan untuk digunakan secara praktis. Akal sehat dapat menghasilkan kebenaran dan dapat pula menyesatkan.
2. Intuitif
Kebenaran dengan intuitif diperoleh secara cepat melalui proses yang tidak disadari atau tanpa berpikir terlebih dahulu.
3. Trial and Error
Kebenaran melalui trial and error dilakukan secara coba-coba tanpa kesadaran akan pemecahan masalah tersebut.
4. Otoritas
Kebenaran diterima melalui otoritas atau kewibawaan seorang ilmuan atau pejabat tertentu. Pendapat mereka umumnya sering diterima orang tanpa diuji, karena dipandang sudah benar.
5. Prasangka
Kebenaran melalui akal sehat dipengaruhi oleh kepentingan orang yang melakukanya sehingga akal sehat berubah menjadi prasangka.
6. Wahyu
Kebenaran yang didasarkan pada wahyu bukanlah disebabkan oleh penalaran manusia secara aktif, tetapi diturunkan Allah swt.
Adapun etika yang harus ditaati oleh peneliti antara lain : (1) bidang yang diteliti sesui dengan keahlian penelitian; (2) peneliti harus merahasiakan semua informasi yang diperoleh dari responden sehingga nama-nama responden harus dituliskan dalam bentuk kode-kode atau inisial; (3) peneliti tidak menuntut responden untuk bertanggung jawab atas informasi yang telah disampaikannya; (4) peneliti tidak memaksakan kehendaknya agar responden memberikan informasi kepadanya; (5) peneliti tidak mengubah informasi responden. (Husaini Usman, 2009:1-3)
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Penelitian agama (research on religion) lebih ditekankan pada aspek pemikiran (thought) dan interaksi sosial. Pada aspek pemikiran, menggunakan metode filsafat dan ilmu-ilmu chomaniora. Sedangkan pada aspek interaksi sosial, yakni penelitian keagamaan sebagai produk interaksi sosial, menggunakan pendekatan sosiologi, antropologi, historia atau sejarah sosial yang biasa berlaku dan sebagainya.
Adapun model penelitian yang ditampilkan di sini disesuaikan dengan perbedaan antara penelitian agama dan penelitian hidup keagamaan. Pengumpulan data dan metode yang digunakan antara lain:
1. Analisis sejarah
2. Analisis lintas budaya
3. Eksperimen
4. Observasi partisipatif
5. Riset survey dan analisis statistic
6. Analisis isi.
DAFTAR PUSTAKA
Atang Abd, Dkk. Metodologi study islam, 2011. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
http://buanyakilmu.blogspot.com/2009/05/telaah-konstruksi-teori-penelitian.html. senin 11-10-2013.
Abdul Munir Mulkham. Nalar Spiritual Pendidika, 2002. Yogyakarta : PT Tiara Wacana Yogya.
Usman, Husaini. Metodoogi Penelitian Sosial, 2009. Jakarta : Bumi Aksara.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar