Minggu, 27 Oktober 2013

Kesenjangan Organisasi di STAI Pati

Kesenjangan Organisasi di STAI Pati Mantan ketua organisasi LPM Terma STAI Pati mengatakan bahwasanya ” Organisasi ekstra di STAI Pati sendiri kurang menunjukkan eksistensinya pada mahasiswa-mahasiswanya dikarenakan kultur atau budaya masih menganggap Organisasi hanya membuang-buang waktu, tidak bermanfaat, anarkis dan hal-hal negative lainya, adapun kebanyakan mahasiswa-mahasiswi sudah bekerja sehingga sedikit sekali waktu luang yang tersisa. Adapun upaya yang dilakukan oleh komunitas dari berbagai organisasi dengan mendekati secara personal.” Sedangkan menurut mahasiswa anggota dari LPM Terma STAI Pati Z.A mengatakan bahwa “ Mahasiswa-mahasiswa STAI Pati terlalu sibuk dengan dunia kerjanya sehingga sedkit sekali kemungkinannya untuk mengikuti Organisasi.

Problem Anak Kos dan Tips Mengatasi Keuangan


Saat seperti inilah yang tidak di sukai oleh anak kos termasuk aku, saat tubuh terasa lemah, lemas, apa-apa tak enak, penyakit semakin lama semakin memburuk, mau berobat tak ada kendaraan, mau minta tolong temenpun tak enak (pada sibuk dengan urusan masing-masing), mau gak mau beli obat di tempat terdekat (warung) paling mentok di apotek. Beneran dech…. Gk enak bgt saat sakit seperti ini, pengen pulang rumahnya jauh, kalaupun jadi pulang  pasti ngrepotin orang tua ,, ah.. kalau ingat orang tua bawanya pengen nangis, jadi merasa bersalah atas amanat mereka yang telah kulanggar salah satunya jarang belajar. Loh… loh…  Koq ceritanya jadi beralih, next kecerita, pokoknya hal pertama yang paling tidak mengenakkan saat jauh dari orang tua itu saat lagi sakit. Tak ada yang ngurusin kalaupun ada, tak sebanding dengan perawatan sang ibu karena ada kasih sayang yang tulus yang terpancar dari wajahnya.
Dan hal lain selanjutnya yaitu masalah keuangan, huh… kalau soal ini memang sebagai anak yang jauh dari orang tua khususnya anak kos harus pandai-pandai mengatur keuangan, jangan dikit-dikit minta kiriman, dikit-dikit mengeluh soal yang gak terlalu penting. Itu emang sudah resiko yang harus kita ambil. Memang pada awalnya terasa gak enak karena keperluan kita tak ada yang nyiapin seperti saat dirumah, tapi percaya dech lama-lama akan terbiasa. Justru dengan kita jauh dari orang tua akan mendewasakan diri. Karena kita mampu bertanggung jawab atas diri kita,. Pasti semua anak yang jauh dari orang tua (anak kos) pernah ngalamin satu hal ini. “Saat lagi pengen-pengennya hemat ada aja yang mesti harus dibeli” misalnya, keperluan sehari-hari habis, wajib beli buku, sakit dan masih banyak lagi. Tapi tenang aja ada tips jitu yang harus dicoba tentunya sebagai anak kos kita harus pandai-pandai mengatur keuangan dengan sebaik-baiknya misalnya dengan mengatur keuangan makan. Sehari semalam dua kali caranya, makan pagi dengan makan siang dijadikan satu pada pukul 10.00-11.00  dan makan siang dengan makan malam juga di jadiin satu yakni pukul 15.00-16.00. Nah dengan cara seperti ini sedikit membantu dalam penghematan. Kalau soal jajan tergantung individunya, tapi pada umumnya kalau perut sudah kenyang dan haknya sudah terpenuhi nafsu untuk nyemil akan berkurang.
Hmm… soal buku cara mengantisipasi dengan mencatat poin-poin yang terpenting dalam buku, cara ini untuk orang yang gemar menulis plus tulisanya rapi ( tidak membosankan). Bagi yang kurang menyukai tulisan tangan ataupun tulis-menulis jangan berkecil hati. Karena pada eksistensinya di jaman modern ini banyak alat-alat canggih yang banyak berperan penting bagi kehidupan kita, salah satunya internet, dengan adanya internet kita bisa mencari apapun yang kita inginkan, misalnya soal mata kuliah, info-info dan lain-lain. Nah bagi yang kurang suka menulis dapat mengupload file-file yang dibutuhkan. Kalau menurut saya pribadi soal buku, kalau memang penting dan berguna bagi kehidupan kita sekarang dan di masa yang akan datang, gak masalah kita mengorbankan uang pulsa atau uang makan untuk membeli buku karena toh… buku sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas diri terutama meningkatkan kecerdasan akademik. Tak masalah mengorbankan pulsa, kita di kos tentunya mempunyai teman, kalau ada sms atau telvon yang penting, kita bisa minjam HP temen (minta gratisan sms) untuk membalasnya. Tak masalah juga mengorbankan uang makan, kita bisa berpuasa, selain menambah iman kita kepada sang maha kuasa kita juga punya alasan yang logis untuk menolak ajakan makan temen-temen hehe.
Bagi yang punya laptop, IPed, HP android dan barang elektronik sejenisnya yang membutuhkan kartu khusus untuk internetan (modem). Kalau masa aktifnya udah habis gak usah berkecil hati, sekarang dimana-mana banyak layanan yang menyediakan Host Pot. Bukan hanya dikampus dirumah makanpun ada dan di tempat-tempat lain. Jadi kalau kantong mulai menipis atau kiriman belum datang gak usah kuatir nikmati aja layanan yang sudah disediakan dengan begini gak ada masalah kan…
Soal baju, sepatu, kehidupan sehari-hari maupun bulanan, ada tips jitu nich.. kalau ada temen yang ngajak ke mall, swalayan maupun pasar untuk nemenin dia belanja, kebetulan kita juga mau beli keperluan sehari-hari, caranya sebelum berangkat kita tulis keperluan apa saja yang wajib dibeli pada kertas kecil dan jangan membawa uang terlalu banyak karena dapat memicu ke hal-hal yang tidak bermanfaat, kemudian saat sedang belanja usahakan jangan lirik sana lirik situ (memandangi barang dengan antusias) karena hal itu dapat memicu nafsu untuk membeli barang yang tidak perlu dibeli, satukan pikiran pada satu tujuan. Satu lagi nich yang gak kalah pentingnya tahan untuk membeli barang yang gak penting. Kalau soal baju, sepatu, tas dan sejenisnya sebelum kita mau membeli kita pandangi barang-barang yang lama dulu apa masih bagus dan layak untuk di pakai atau sebaliknya, kalau masih layak dipakai tahan dulu dech, kalau tak layak dipakai barulah beli usahakan kalau beli barang yang awet, kualitasnya bagus karena sejatinya barang yang kualitasnya bagus akan enak dipakai dan tahan lama, memang agak mahal karena ada harga ada barang, ketimbang membeli barang yang murah tapi kualitasnya kurang dan mudah rusak, itu sama saja dengan mempermainkan diri sendiri karena harus berulang mmbeli barang yang sama.
Demikian cerita dan masukan-masukan buat kamu-kamu yang sedang bermasalah soal keuangan, semoga bermanfaat..  tak ada salahnya untuk dicoba … J
saya sangat menyadari ada banyak kekurangan pada tulisan ini maka dari itu kritik dan saran dari anda ikut berperan penting pada tulisan saya berikutnya . Bagi yang mau komentar monggo

Kamis, 24 Oktober 2013

Kajian Ontologi Ilmu Dakwah




 KAJIAN ONTOLOGI ILMU DAKWAH




       I.            Pendahuluan
Berbicara tentang pengembangan ilmu pengetahuan agama islam, tidak bisa mengesampingkan kondisi atau suasana yang meliputi dan menyertai pengembangan ilmu pengetahuan secara umum pada saat ilmu itu berkembang. Kepincangan dan ketertinggalan  ilmu agama islam tidak akan bisa diatasi hanya dengan membolak balik ilmu – ilmu keislaman tradisional yang terdapat dalam kitab kuning. Sebenarnya tuntutan dunia baru tidaklah terlalu muluk dan sulit dipenuhi.
Pekembangan filsafat dewasa ini merupakan kelanjutan dari perjalanan panjang filsafat yunani. Pengaruh filsafat yunani juga ditemukan dalam dunia islam  karena filsafat berkembang dalam dunia islam berasal dari penerimaan pemikiran yunani.
Dalam tradisi filsafat barat ada tiga tema sentral pembahasan yang mutlak dibicarakan ketika akan mengkaji suatu persoalan dalam perspektif filsafat, termasuk pembahasan filsafat ilmu pengetahuan yaitu ontology, ( yang akan dibahas dalam makalah ini ), epistimologi dan aksiologi. ( Fathul Mufid, 2008: 65).
Filsafat dakwah menurut sistematika filsafat yang dibuat The Liang Gie termasuk dalam filsafat khusus , yaitu filsafat agama. Namun dalam kaitannya dengan filsafat keilmuan seperti yang diadaptasikan oleh Bustanuddin Agus, masalah ontology dari filsafat dakwah berkaitan dengan pandangan hakikat ilmu atau pengetahuan ilmiah disekitar persoalan dakwah. Dengan demikian aspek ontology dalam tulisan ini kita batasi maksudnya pada eksistensi dakwah, apa yang nyata secara fundamental dalam dakwah.

    II.            Rumusan Masalah
a)         Apa pengertian ontology
b)        Beberapa aspek yang termasuk dalam ontology yaitu objek kajian ilmu dakwah, karakteristik manusia, interaksi Tuhan manusia dan alam, pengertian islam, nubuwah dan risalah.

 III.            Pembahasan
A.    Pengertian Ontology
Ontology berasal dari dua kata on dan logi artinya ilmu tentang ada. Ontologi adalah teori tentang ada dan realitas ( Musa Asy’ari, 1992: 18 ). Meninjau persoalan secara ontologis adalah mengadakan penyelidikan terhadap sifat dan realitas. Jadi ontology adalah bagian dari metafisika yang mempelajari hakikat dan digunakan sebagai dasar untuk memperoleh pengetahuan atau dengan kata lain menjawab dengan pertanyaan apakah hakekat ilmu itu.
            Ontology meliputi permasalahan apa hakekat ilmu itu, apa hakekat kebenaran dan kenyataan yang inbern dengan pengetahuan yang tidak terlepas dari persepsi kita tentang apa dan bagaimana ilmu itu. . ( Fathul Mufid, 2008: 65).
 Ontologi menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara-cara yang berbeda dalam mana entitas dari kategori-kategori logis yang berlainan ( seperti objek-objek fisis, hal universal, abstraksi, bilangan dan lain-lain) dapat dikatakan ada. Dalam kerangka tradisional, ontologi dianggap sebagai teori mengenai prinsip-prinsip umum mengenai hal “ada”, sedangkan dalam pemakainya pada akhir-akhir ini ontology dipandang sebagai teori mengenai  “apa yang ada”. Ontology berusaha mengungkapkan makna eksistensi, tidak termasuk mengenai persoalan asal mula perkembangan dan struktur kosmos (atau alam semesta) yang merupakan titik perhatian dari kosmologi. ( Wahidin Saputra, 2011: 60 ).
B.     Beberapa aspek yang termasuk dalam ontology dakwah.
a)      Objek Kajian Ilmu Dakwah
Dalam salah satu karya Ismail al-Faruqi mengemukakan, dakwah berhubungan dengan islam. islam menempatkan yang benar dan yang salah dengan sangat jelas. Kebenaran menjadi nyata karena disisi lainnya kesahan menjadi tampak nyata. Dakwah berpihak kepada kebenaran yang dalam mecapai tujuannya tidak lebih dari sekedar menumbuhkan pembenaran atas kebenaran yang timbul secara sadar, sukarela, tanpa paksaan, tanpa pengaruh alat mistik atau kimiawi yang mengaburkan kesadaran dan akal sehat, terhadap pihak objek dakwah mad’u.
Kegiatan dakwah, bagi Ismail al-Faruqi merupakan suatu bentuk usaha dalam berpikir, berdebat atau menyanggah. Isi dakwah adalah kebenaran yang diterima secara tulus dan pembenaranya yang disadarkan pada pertimbangan –pertimbangan atas beberapa alternatife.  Lebih jauh Ismail Al-Furuqi menambahkan bahwa dakwah adalah suatu proses kritis dan rational intelection berdasarkan sifatnya yang tidak pernah dogmatis, dan tidak pernah didasarkan atas kewenangan sesorang atau suatu tradisi. Dakwah islam adalah suatu bentuk penyajian terhadap hasil penelitian kritis bagi nilai-ilai kebenaran, sebuah preposisi, sebuah fakta tentang metafisik dan etik serta relevensinya bagi manusia ia tidak akan pernah membawa  manusia pada sesuatu yang menyalahi fitrah manusia.
Dakwah dalam praktiknya merujuk pada fitrah manusia karena dalam fitrah itulah ada kebenaran yang dengan begitu kebenaran akan hadir pada diri mad’u dan diterimanya dengan ketulusan. Hakekat dakwah adalah mengajak manusia kembali kepada hakikat yang fitri yang tidak lain adalah jalan Allah Swt, serta mengajak manusia untuk kembali kepada fungsi dan tujuan hakiki keberadaannya dalam bentuk mengimani ajaran kebenaran dan mentransformasikan iman menjadi amal shaleh.
Ilmu dakwah pada hakikatnya adalah ilmu yang menyadarkan dan mengembalikan manusia pada fitrahnya, pada fungsi dan tujuan hidup manusia menurut islam. maka, ilmu dakwah adalah ilmu transformasi untuk mewujudkan ajaran yang bersifat fitri (islam) menjadi tatanan khairul al-Ummah atau mewujudkan iman menjadi amal saleh kolektif yang tumbuh dari kesadaran intelektual yang sepenuhnya berpihak kepada kemanusiaan.
Objek material ilmu dakwah, menurut penjelasan cik Hasan Bisri adalah unsure substansial ilmu dakwah yang terdiri dari enam komponen,yaitu da’I, mad’u, metode, materi, media dan tujuan dakwah. Sedangkan objek formal ilmu dakwah adalah sudut pandang tertentu yang dikaji dalam disiplin utama ilmu dakwah, yaitu disiplin tabligh, pengembangan masyarakat islam dan manajemen dakwah.
Amrullah Achmad berpendapat, objek material ilmu dakwah adalah semua aspek ajaran islam (Al-Quran dan As-sunnah), hasil ijtihad dan realisasinya dalam system pengelolaan, teknologi, social, hukum, ekonomi, pendidikan dan lainya, khususnya kelembagaan islam objek material ilmu dakwah inilah yang menunjukkan bahwa ilmu dakwah adalah satu rumpun dengan ilmu-ilmu keislaman lainya seperti fiqih, ilmu kalam dan lainya. Objek formal kajian ilmu dakwah adalah kegiatan manusia yang memihak dan menerapkan kedalam segi-segi kehidupan umat manusia dengan menjalankan ajaran islam sebagaimana dipahami dari sumber-sumber pokoknya, termasuk nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan, supaya yang menjadi objek formal ilmu dakwah itu berfungsi untuk mengembalikan manusia ke dalam garis fitrah mereka yaitu kesucian (islam). secara kategoris objek formal ilmu dakwah itu terlihat dalam bagan berikut ini:
 Perilaku keagamaan adalah ruang terjadinya persentuhan antara objek material ilmu dakwah dengan ilmu-ilmu social. Perilaku keislaman adalah ruang persentuhan objek material ilmu dakwah dengan ilmu-ilmu keislaman. Sedangkan perilaku teknologis adalah ruang persentuhan objek material ilmu dakwah dengan penerapan teknologi untuk kesejahteraan manusia (seperti teknologi komunikasi).  Bentuk-bentuk empiris dari apa yang menjadi objek formal kajian ilmu dakwah itu meliputi antara lain ajakan untuk membela dan menerapkan kebenaran melalui media lisan, tulisan, perbuatan nyata, pengorganisasian terhadap berbagai kegiatan pembelaan dan pengaplikasikan kebenaran serta pengelolaan lembaga-lembaga yang berkaitan dengan berbagai kegiatan tersebut. Secara kategoris objek/formal ilmu dakwah adalah ruang persentuhan antara perilaku keagamaan, perilaku keislaman dan perilaku teknologis dalam dimensi ruang dan waktu. Secara terperinci objek formal ilmu dakwah itu terdiri dari realitas dakwah berupa proses interaksi unsur-unsur dakwah. . ( Wahidin Saputra, 2011: 67 ).

b)      Karakteristik Manusia
Manusia adalah sesuatu yang nyata ada, oleh karena itu tentu dapat dipahami adanya eksistensi manusiawi disamping sisi organic dan  materialnya. Manusia dalam kenyataanya bukan sekedar suatu materi yang kompleks, tetapi juga realitas nonmaterial (sisi eksistensi manusiawi/materiall) dan persoalanya yang menggabungkan dualitas material dan spiritual.
 Sisi material manusia memiliki kualitas - kualitas seperti berat, masa, bentuk, dan volume. Sisi material manusia ini tunduk kepada hukum-hukum fisika. Kompleksitas dari sisi material manusia itu melipiti eksistensi fisis, biologis, personal dan social, yang dalam batas-batas tertentu dapat ditemukan pada tingkatan hewani dari kenyataan yang ada. Eksistensi yang dimiliki manusia, dengan demikian tidak akan ditemukan jika yang diperhatikan hanya sisi material manusia semata. Eksitensi khas itu eksistensi manusiawi, dalam arti cara berada yang khas dari manusia, terdiri dari interaksi-interaksi dari suatu kumpulan unsure - unsur sebagai hasil dari proses budi. Unsure-unsur eksistensi manusiawi ada empat yaitu:
1.      Seni adalah suatu kegiatan manusiawi yang menjelajahi kemudian menciptakan realitas baru dalam suatu cara yang diluar akal serta berdasarkan penglihatan juga menyajikan realita itu secara perlambang atau kiasan sebagai sebuah kebulatan dunia kecil yang mencerminkan sebuah kebulatan dunia besar.
2.      Kepercayaan adalah proses menerima dan merasa yakin terhadap adanya sesuatu yang tertinggi yang mempunyai kekuasaan atas alam semesta ini.
3.       Filsafat adalah suatu kegiatan manusiawi yang bersifat reflektif bersandar kepada akal manusia dan sebagian besar tetuju pada pencarian pengetahuan serta akan menghasilkan kearifan, asas - asas yang menghabiskan pemikiran yang sistematis dan pandangan yang menyeluruh.
4.       Ilmu adalah kegiatan menyelidiki oleh budi manusia dengan memakai metode - metode yang diatur dan dikontrol untuk memeroleh sekumpulan fakta yang spesifik yang menghasilkan asas – asas, system, teori, dan kaidah yang dinamakan pengetahuan ilmiah.
Keempat unsure eksistensi manusiawi itu tidak hanya membuat manusia menjadi jenis makhluk biologis yang berkembang paling tinggi diantar semua jenis makhluk, melainkan kenyataanya telah mengubah manusia menjadi suatu jenis makhluk hidup yang baru.
Dalam ruang lingkup agama islam pada referensi yang lain dikatakan bahwa islam memiliki keistimewaan dan karakteristik tersendiri yang berbeda dengan agama yang lain didunia. Diantara keistimewaan yang dimiliki oleh islam seperti yang diungkapkan agamawan barat adalah sebagai berikut:
1.      Islam merupakan agama universal .
2.      Islam merupakan agama yang memiliki keseimbangan orientasi hidup.
3.      Penamaan islam sebagai agama langsung diberikan oleh Allah melalui wahyu-Nya ( alquran ).
Dari keistimewaan yang dimiliki oleh ajaran islam , lahirlah karakteristik umat islamyang meliputi sebagai berikut:
1.      Umat islam sebagai umat yang satu ( ummatun wahidah ).
2.      Umat islam merupakan umat multiras, suku, dan bangsa.
3.      Umat islam menekankan kesamaan dan kesetaraan.
4.      Umat yang mendorong tegaknya msyarakat dalam urusan tegaknya agama islam.
5.      Umat yang mencintai keadilan. ( Ali Anwar Yusuf, 2002: 35)
Menurut Muhammad Baqir ash-Shadr, penjelasan tentang manusia berdasarkan dua unsure spiritual dan material, mendapatkan formulasinya yang baik ditangan filosof Muslim, Shadr al-Muta’allihin, Asy-Syirazi. Filosof ini telah menemukan gerak substansial dalam jantung alam. Gerak ini adalah sumber paling primer dari setiap gerak yang kasat indrawi yang terjadi di alam. Materi dalam gelak substansialnya itu menyempurnakan wujudnya dan terus menyempurnakanya sampai terlepas dari materialnya dibawah syarat-syarat tertentu dan menjadi maujud yang bukan material. Jadi antara material dan spiritual (nonmaterial) tidak ada garis pemisah. Keduanya adalah dua tingkat keberadaan. Bagi Asy-Syirazi, ninmaterian, roh atau jiwa bukanlah produk materi dan bukan pula salah satu efek dari materi. Roh, jiwa, nonmateri itu adalah produk gerak substansial yang bukan berasal dari materi itu sendiri. Roh yang merupakan sisi nonmaterial manusia adalah produk penggerak tersebut. Adapun gerak ini sendiri, ia adalah jembatan antara materialism dan spiritualisme. Namun hal itu bukan berarti kompeksitas keberadaan manusia telah terselesaikan sepenuhnya dalam pengetahuan manusia secara tuntas. Masih dapat dijumpai sejumlah pertanyaan yang sampai saat ini masih belum tersedia jawaban yang memuaskan berbagai pihak. Kompleksitas eksistensi manusia dan keterbatasan akal manusia merupakan factor-faktor yang memustahilkan bagi manusia itu sendiri memperoleh pengetahuan secara tuntas tentang dirinya dari dalam dirinya. ( Wahidin Saputra, 2011: 71 ).
c)      Interaksi Tuhan,Manusia dan Alam
Menurut al-Quran keberadaan alam semesta diciptakan oleh Allah Swt. Dapat dipahami dari ayat berikut “Dan dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar, dan benarlah perkataan-Nya diwaktu itu ia mengatakan : “jadilah lalu jadilah” dan ditangan-Nya lah segala kekuasaan sewaktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang tampak. Dan dialah yang maha bijaksana lagi maha mengetahui.” (QS Al-An’am:37).
  Berinteraksi dengan alam semesta atau  khususnya manusia. Pemikiran mu’tazilah yang menekankan transendensi Allah Swt. Ciptaan-ciptaan Allah Swt itu dapat dikelompokkan ke dalam dua macam. Yaitu ciptaan Allah Swt yang dapat ditangkap oleh indra dan instrument yang dimiliki manusia. Ciptaan jenis ini dikenal dengan dunia empiris. Dan lainya adalah ciptaan Allah Swt yang tidak akan dapat ditangkap oleh kemampuan manusia. Ciptaan jenis ini dikenal dengan dunia nonempiris. Di antara semua ciptaan Allah Swt. Itu, manusia menduduki tempat amat khusus. Manusia adalah satu-satunya ciptaan Allah Swt. Yang memiliki dua potensi sekaligus potensi untuk mengelola dan merusak alam semesta.
Sesuai dengan pemaknaan ukhuwah menurut Al-quran dan al-sunnah, maka ukhuwah dapat dibedakan menjadi empat bentuk yaitu:
1.      Ukhuwah fi al ubudiyah yaitu seluruh makhluk Allah adalah bersaudara.
2.      Ukhuwah fil al insaniyah yaitu seluruh umat manusia adalah bersaudara.
3.      Ukhuwah fil al wathaniyah yaitu saudara dalam seketurunan dan sekebangsaan.
4.      Ukhuwah fil al din al islam yaitu persaudaraan antar intern umat islam. ( Muhaimain dkk, 2005: 346)
Manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS Al-Tin :4). Di samping itu, digambarkan pula dalam Al-Quran hal-hal negative mengenai manusia, seperti dapat dipahami dari ayat-ayat berikut “Dan dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitungkan nikmat Allah, tidaklah kamu menghinggakanya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”. (QS Ibrahim:34)
Oleh Allah, manusia diberi kewenangan untuk memanfaatkan kekayaan alam yang memang disediakan untuk umat manusia. Banyak ayat-ayat Al-Quran yang menyebutkan “dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapkan di darat dan dilaut. Sesungguhnya kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (kami) kepada orang-orang yang mengetahui.
Manusia diberi kemampuan untuk berkomunikasi baik dengan sesamanya dalam satu generasi melalui symbol-simbol bahasa manusia. Hal itu dapat dipahami dari ayat yang diantara isinya menegaskan bahwa Allah SWT telah menceritakan sebagian dari kisah para nabi yang tidak dalam satu generasi, seperti  dan sesungguhnya telah kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, diantara mereka ada yang kami ceritakan kepadamu dan dia antara mereka ada (pula) yang tidak kami ceritakan kepada… (QS Al-Mu’min:78)”. 
Sebagai pusat interaksi, manusia dituntut untuk menempatkan diri sebagai hamba sahaja ketika berhadapan dengan Allah Swt., seperti firmanya “ dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka meyembahKu (QS Al-Dzariyat:56)”.dan di hadapan alam semesta, manusia dituntut untuk secara aktif mengelolanya secara arif sebagai wakil Allah di muka bumi.
Dari kajian itu, dapat dikemukakan sebagian kesimpulanya sebagai berikut:
1.      Hubungan timbal balik antar manusia dan Allah Swt.bersifat sangat komersial.
2.      Dalam kajian itu ditemukan sejumlah tema dalam dunia perdagangan yang dapat dijumpai dalam Al-Quran ketika memberi petunjuk kepada umat manusia.
3.      Bahwasanya Nabi Muhammad Saw. Telah menggunakan terma - terma itu dalam semua periode pewahyuan, walaupun beberapa tema tertentu lebih banyak dipergunakan dalam periode yang sama. ( Wahidin Saputra, 2011: 81 )
d)     Pengertian Islam
“ Al-Islamshalihun likulli zaman wamakanin” ( islam adalah agama yang sesuai dengan segala zaman dan tempat ). Ungkapan in idapat dibuktikan antara lain oleh pemahaman dan pengamatan bahwa islam adalah agama yang paling banyak mencakup berbagai ras dan kebangsaan. ( Ali Anwar Yusuf, 2002: 15)
Dengan penyerahan diri kepada Allah itu, seseorang akan mampu mengembangkan seluruh kepribadiannya secara menyeluruh dan oleh karenanya ia akan memperoleh keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian.
Pemakaian term islam untuk nama sebuah agama, menuntut adanya aturan – aturan formal sebagai predikat sehingga dapat diidentifikasikan perilaku tertentu sebagai cerminan aktualisasi agama islam. pada umumnya islam dimengerti hanya sebagai nama untuk sebuah agama, yaitu agama yang telah terorganisir, agama formal atau agama mapan. Sebagai nama agama, islam menunjuk pada ajara yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.
Islam sendiri terbagi menjadi dua yaitu islam predikatif dan esensial. Keduanya secara analisis dapat dibedakan tetap secara factual keduanya tak terpisahkan. Secara predikatif semua bentuk aturan dan norma tidak dibenarkan kecuali yang telah digariskan dalam sumber pokok ajaran islam. sedangkan islam esensial adalah islam intisari. Orang yang menegakkan islam predikatif seharusnya juga berislam esensial karena keduanya terpisah hanya pada tingkat analisis sedangkan secara factual adalah menyatu dalam satu penghayatan dan pengalaman.
WC. Smith ( 1982 ) berpendapat, islam dapat dilihat dalam tiga pengertian. Pertama islam sebagai kepercayaan seseorang secara aktif. Kedua adalah islam sebagai system keagamaan  yang bersifat ideal, ketiga , islam sebagai system keagamaan yang bersifat historis. Dan masih banyak para cendekia serta ilmuan –ilmuan yang mempersepsikan tentang islam.
e)      Nubuwwah dan Risalah
Nubuwwah atau Risalah adalah konsep sebagai hasil pemikiran yang berusaha memahami kemungkinan adanya kontak antara supranatural dan natural. Kontak supranatural dan natural itu penting bagi  kehidupan manusia. Dalam konteks pembahasan ini kontak anatara keduanya menunjuk pada kemungkinan dan kemustahilan adanya petunjuk Allah Swt. Yang diturunkan kepada manusia yaitu agama. Ketakmustahilan ada kontak tersebut sama artinya dengan kemungkinan adanya agama untuk umat manusia/ketika agama dipahami  berasal dari Allah yang supranatural. Filsafat kenabian menjadi penting bagi manusia, sama dengan pentingnya agama bagi manusia.
Manusia sangat membutuhkan bimbingan dari Allah. Kepercayaan adalah pembeda yang khas antara manusia dan makhluk – makhluk hidup lainnya maka manusia pada dasarnya memiliki fitrah keagamaan.
Potensi beragama ditemukan ada pada diri manusia dalam pengertian bahwa manusia secara eksistensial memiliki sifat – sifat yang dapat mendorong untuk itu. sifat –sifat itu antara lain bahwa manusia pada dasarnya memiliki rasa berutang budi kepada selain Allah  yaitu pihak lain yang telah berbuat baik kepadanya. Pada dasarnya ada kecenderungan bahwa sifat – sifat negative memiliki potensi untuk lebih menguasai manusia bahkan termasuk dalam perilaku bakti kepada Allah. Ketidaksanggupan manusia untuk mengendalikan diri dan keterbatasannya dalam memahami hal – hal ghaib telah mendorong manusia terlalu spekulatif dalam memahami yang supranatural.
Tantangan yang dihadapi manusia juga termasuk factor manusia memerlukan agama baik termasuk tantangan dari dalam maupun luar. Dengan uraian diatas, maka mudah untuk mengatakan bahwa manusia secara eksistensial memerlukan agama. ( Wahidin Saputra, 2011: 92 )


 IV.            Kesimpulan
Dari uraian diatas sedikit banyak telah dijelaskan tentang pengertian ontology dan aspek – aspek kajiannya. Berbicara tentang pengembangan ilmu pengetahuan agama islam, tidak bisa mengesampingkan kondisi atau suasana yang meliputi dan menyertai pengembangan ilmu pengetahuan secara umum pada saat ilmu itu berkembang. Pekembangan filsafat dewasa ini merupakan kelanjutan dari perjalanan panjang filsafat yunani. Filsafat dakwah menurut sistematika filsafat yang dibuat The Liang Gie termasuk dalam filsafat khusus , yaitu filsafat agama. Namun dalam kaitannya dengan filsafat keilmuan seperti yang diadaptasikan oleh Bustanuddin Agus, masalah ontology dari filsafat dakwah berkaitan dengan pandangan hakikat ilmu atau pengetahuan ilmiah disekitar persoalan dakwah.
ontology adalah bagian dari metafisika yang mempelajari hakikat dan digunakan sebagai dasar untuk memperoleh pengetahuan atau dengan kata lain menjawab dengan pertanyaan apakah hakekat ilmu itu. Ontologi menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara-cara yang berbeda dalam mana entitas dari kategori-kategori logis yang berlainan.
Beberapa aspek yang termasuk dalam ontology yaitu objek kajian ilmu dakwah, Dari uraian diatas sedikit banyak telah dijelaskan tentang karakteristik manusia, interaksi Tuhan manusia dan alam, pengertian islam, nubuwah dan risalahyang semuanya sudah dipaparkan diatas oleh pemakalah.
    V.            Penutup
Demikianlah makalah Ilmu Dakwah dengan judul  kajian ontology ilmu dakwah yang dapat pemakalah paparkan, semoga pembahasan diatas dapat bermanfaat. Apabila dalam penulisan makalah ini terdapat kesalahan, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kritik dan saran selalu penulis nantikan guna perbaikan di makalah selanjutnya.






 VI.            Daftar Pustaka
Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2012.
Fathul Mufid, Filsafat Ilmu Islam, kudus, 2008.
Ali Anwar Yusuf, Wawasan Islam, Pustaka Setia Bandung, Bandung, 2002.
Muhaimin dkk, Kawasan dan Wawasan Study Islam, Prenada Media, Jakarta, 2005.