Senin, 18 November 2013
Cerpen "Diary Tiara"
Hembusan angin malam menusuk sukma-sukma persandian Tiara, hawa dingin sudah dirasakannya semenjak dua hari yang lalu. maklum, bulan ini bulan November musim penghujan mulai mengguyur diberbagai kota termasuk kota Kudus yang ditempati tiara sekarang. Dia bisa dibilang baru menempati kota kretek itu, kurang lebih satu setengah tahun, ini dapat dilihat dari pengetahuannya yang masih minim mengenai tempat-tempat maupun daerah-daerah yang sekarang ia tempati. Pernah suatu ketika saat Tiara dan Sofi sedang jogging sore di daerah tidak jauh dari tempat kosnya, mereka ditanyai oleh sopir truk
“ mbak arah ke Mbareng kemana ya?”
Tiara dan Sofi saling pandang mereka bingung mau nunjuk arah mana
“ belok kiri pak” jawab Sofi dengan suara khasnya,setelah mendapat jawaban sopir trukpun melanjutkan perjalananya.
Tiba-tiba Sofi menepuk pundak Tiara spontan Tiara kaget
“ kenapa mbak..???” Tanya Tiara penasaran
“ owalaah…… ra arah ke Mbareng Belok kanan, bukan arah ke kiri, aduhhh… aku jadi merasa bersalah nich!!!!” jawab Sofi dengan cemasnya hendak berlari mengejar truk yang dikendarai bapak-bapak yang bertanya tadi, tapi dengan segera langkahnya dihentikan oleh Tiara
“ jangan gila mbak truk itu udah jauh, kalupun kamu mengejarnya kamu gak bakalan sampai”
Sofipun menuruti kata Tiara, mereka sama-sama memperhatikan truk yang sedang melaju semakin jauh dari tempat mereka beridiri, tapi untunglah truknya belok kearah kanan itu melegakan hati mereka. entah bapak-bapak yang bertanya tadi sengaja menggoda atau dia berinisiatif kalau jalannya kearah kanan, entahlah yang pasti hati mereka sudah tenang. Dari peristiwa ini membuat Tiara berpikir betapa parnonya dirinya, ingin sekali dia keliling kota Kudus dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah seperti museum kretek, gunung muria, kajar dan tempat-tempat lainya. tapi sayang tak ada kendaraan yang menunjang keinginanya itu, adanya kendaraan umum yang hanya bisa melintasi jalan-jalan besar kalau jalan-jalan kecil jarang ada bis ataupun angkot yang melintas, padahal jalan menuju tempat-tempat bersejarah itu melewati jalan kecil atau masuk gang, satu lagi kalau naik kendaraan umum menelan biaya yang agak mahal, murahan pakai kendaraan sendiri. Itulah alasan Tiara kenapa sampai saat ini dia masih belum mengetahui tempat-tempat dikudus. Kalau hari libur datang seperti saat ini dia sering menghabiskan waktunya di kos entah itu menonton tv, baca buku maupun menulis.
Kalau dia merasa suntuk,bosan dan pikiran lagi kacau Tiara mengajak teman sekelasnya ziarah kemenara(makam Abu Jakfar Shodiq salah satu wali 9) saat hari libur atau sudah tak ada jam mata kuliah lagi. Temannya itu memang sangat alim semenjak mondok semester tiga yang lalu, tidak main-main pertama mondok langsung Hafidzah tidak heran kalau berubah menjadi wanita alim. Namanya Istiqomah dan Tiara sering memanggilannya dengan panggilan Isti, seperti namanya yang artinya tetap pada pendirian, dalam menuntut ilmu isti selalu sepanteng tiada hari tanpa membaca dan belajar, dan sikap rajinya itu loh… yang membuat Tiara tak henti-hentinya mengucapkan tasbih, tiap melihat Isti membaca buku di saat teman sekelas lagi gaduh-gaduhnya membicarakan ini-itu tak membuat ia gusar dan disela-sela waktu yang longgar Isti mengambil tempat duduk paling belakang yang dianggapnya tempat paling tenang untuk menghafal alquran. Seperti itulah teman Tiara yang satu itu rajin banget. Ada teman yang membuat Tiara merasa senang nich.. dia adalah Sofi.
Sofi adalah teman terdekat Tiara sejak ia baru masuk di perguruan tinggi ternama dikota Kudus menurutnya Sofi adalah wanita yang paling lembut, paling sopan yang pernah ia temui, dari dia bersikap sampai gaya bicaranya membuat Tiara terkagum-kagum ditambah kedewasaan dalam berpikir dan tentunya kebaikannya. Pernah suatu ketika mereka jalan berdua kearah persawahan tak sengaja dijalan ada burung mati tertabrak motor yang sedang berlalu lalang, tiba-tiba Sofi ambil daun dan menyingkirkan burung itu ketepi jalan, dengan wajah melasnya dia menatap lumat-lumat burung yang sudah mati itu. mungkin kalau tidak ada Tiara, Sofi bakalan ngukuburin burung itu. Tiara hanya bisa mendengus dan menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata dalam hati “ baik benar hatimu mbak”. Tidak jarang kalau Tiara sering mencurahkan hati ke Sofi, entah itu soal keuangan, keluarga, pelajaran ataupun hal-hal yang berkaitan dengan hidupnya. Walaupun mereka tidak satu kos, tapi mereka tetap berhubungan baik dan saling berkomunikasi, bahkan saat pulang kampungpun mereka masih mengirim sms. Itulah teman-teman tiara yang dianggapnya paling berjasa dalam hidupnya dan tentunya masih banyak lagi.
Tiara memang kurang pergaulan dan agak pemalu dan kurang percaya diri, dia lebih senang menyendiri ketimbang berkumpul dengan teman-temannya, entah kenapa dia merasa tidak nyaman kumpul sama teman-temannya itu, menurutnya laki-laki dan perempuan berteman terlalu akrab kurang etis. Tiara dulunya alumni dari sekolah madrasah aliyah swasta yang ada di daerah pati, makanya dia agak kurang suka kalau melihat beda kelamin terlalu akrab dalam berteman.
Rasanya waktu berlalu dengan cepat, tidak terasa sudah semester tiga, itulah yang ada dipikiran Tiara saat hawa dingin merasuk disekujur tubuhnya, bersamaan dengan angin malam selir-selir masuk kedalam kamarnya, melalui jendela kamar yang tak tertutup rapat. padahal rasa-rasanya baru kemaren Tiara mengikuti ospek tau-tau udah semester tiga, tapi ada yang mengganjal di hatinya,
“kenapa aku tidak mengalami perubahan yang signifikan pada diriku..?? aku merasa diriku masih seperti yang dulu, gadis manja dan malas belajar, pengetahuanpun tak terlalu banyak”
Hal itu semakin di pikirkan semakin membuat hati Tiara sesak. Di rebahkanlah tubuh lemasnya di tempat tidur berharap hari esok akan menjadi hari yang lebih baik dari hari sekarang, serta keajaiban akan datang merubah kehidupannya menjadi penuh semangat dan berguna bagi orang lain.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar